Sabtu, 25 September 2010

Dinar Setelah 3 Tahun : Apa Yang Terjadi...?

Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 24 September 2010 09:07

Bulan September ini genap tiga tahun sejak system kami mencatat secara rutin perkembangan harga Dinar dari hari ke hari. Dalam perkembangannya bahkan harga Dinar ini berhasil kami otomatisasikan berdasarkan perkembangan harga emas Dunia, dan ter-update setiap 6 jam dalam angka dan setiap 10 menit dalam grafik – seperti yang dapat Anda ikuti diwww.geraidinar.com sampai sekarang.

Grafik dibawah menggambarkan perkembangan harga tersebut dalam rata-rata bulanan. Di awal kami mencatat harga tersebut, rata-rata bulan September 2007 – harga Dinar berada pada angka Rp 915,080/Dinar sedangkan rata-rata bulan ini harga tersebut berada pada angka Rp 1,567,420/Dinar – naik sebesar 71.29 % dalam waktu tiga tahun.

Perkembangan Harga Dinar 2007-2010

Perkembangan Harga Dinar 2007-2010

Apa maknanya apresiasi nilai Dinar ini bagi uang Anda ?, untuk mudahnya saya berikan gambaran pembanding dengan Deposito standar dengan hasil rata-rata 6 % per tahun misalnya. Bila pada September 2007, Anda memiliki uang Rp 2,000,000 ; yang Rp 1,000,000 Anda taruh di Deposito sedangkan yang sisanya Rp 1,000,000,- Anda taruh di Dinar. Maka nilai uang Anda yang di Deposito kini menjadi Rp 1,196,680,- sedangkan yang di Dinar menjadi Rp 1,712,879,- atau 43% lebih tinggi ketimbang yang di Deposito standar. Untuk lebih mudahnya memahami perbandingan ini, perhatikan grafik dibawah.

Dinar Sebagai 'investasi' vs. Deposito

Dinar Sebagai 'investasi' vs. Deposito

Selain sebagai fungsi investasi – yaitu bila Dinar dilihat dari kaca mata Rupiah nampak memberikan hasil yang jauh lebih tinggi dari investasi dalam bentuk deposito – Dinar juga terbukti berfungsi efektif dalam melindungi nilai asset Anda dalam tiga tahun ini. Uang di Deposto Anda yang seolah tumbuh 19.67% dalam tiga tahun tersebut diatas, ternyata bila diukur dengan timbangan Dinar – bukannya tumbuh malah turun atau menyusut sekitar 25% dalam tiga tahun terakhir. Perhatikan grafik dibawah untuk penjelasan hal ini.

Dinar Sebagai Proteksi Nilai vs. Deposito

Dinar Sebagai Proteksi Nilai vs. Deposito

Setelah fungsi investasi dan proteksi nilai ini terbukti efektif, kini tantangan berikutnya memang menggunakan Dinar sebagai alat transaksi atau medium of exchange. Untuk transaksi modal atau transaksi komersial, pinjam-meminjam dlsb. hal inipun sudah berjalan efektif – tinggal menggunakannya untuk transaksi konsumsi – ini yang merupakan challenge tersendiri.

Dengan adanya gagasan pendirian Pasar Madinah yang saya perkenalkan lewat beberapa tulisan sebelumnya, insyaAllah akan dapat ikut menyempurnakan penggunaan Dinar dalam arti yang sesungguhnya yaitu sebagai Unit of Account, sebagai Store of Value dan tentu saja sebagai Medium of Exchange. InsyaAllah.


Senin, 20 September 2010

Harga Emas : Bila Burung-Burung Canary Mulai Mati ...

Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 17 September 2010 07:33

Burung kecil canary (Serinus canaria domestica) yang hidup di sekitar tambang batu bara – biasanya akan mati terlebih dahulu bila ditambang tersebut muncul carbon monoksida, gas methane atau gas beracun lainnya yang melebihi ambang batas aman. Para pekerja tambang harus segera meninggalkan tambang ketika melihat butung canary ini pada mati. Burung canary menjadi semacam ‘early warning system’ bagi para pekerja tambang batu bara – sehingga muncullah kiasan dalam bahasa Inggris yang berbunyi “canary in the coal mine” yang artinya kurang lebih ya peringatan dini tersebut.

Peringatan dini inilah yang diingatkan oleh Alan Greenspan mantan Chariman of The Fed selama dua dasawarsa dalam seperempat abad terakhir. Kita tahu dalam hal uang fiat – uang yang tidak memiliki nilai intrinsik, nilainya tidak tergantung dengan benda fisiknya – masyarakat ekonomi dunia mengenal pemain utamanya adalah The Fed-nya Amerika. Nilai US$ yang ‘dikendalikan’ oleh The Fed ini berpengaruh langsung maupun tidak langsung ke seluruh perekonomian dunia karena US$ juga menjadi reserve currency di hampir seluruh negara di Dunia. Tokoh yang sangat menentukan dalam ‘pengendalian nilai US$’ ini di Amerika selama beberapa dasawarsa terakhir ya Alan Greenspan tersebut diatas – yang menjabat sebagaiChairman of The Fed selama 20 tahun sampai pensiun empat tahun silam (2006).

Ironinya adalah ‘guru’ uang fiat dunia tersebut ternyata selama ini juga tidak mempercayai nilai uang fiat itu sendiri. Dalam pernyataannya di depan Council on Foreign Relations yang dimuat di The New York Sun dua hari lalu misalnya, Greenspan mengeluarkan beberapa ‘pengakuan’ yang sayangnya tidak dia keluarkan selagi dia masih menjabat dahulu. Beberapa pengakuan yang mengejutkan para pengagung uang fiat tersebut antara lain adalah sbb :

“Fiat money has no place to go but gold,”

“If all currencies are moving up or down together, the question is: relative to what? Gold is the canary in the coal mine. It signals problems with respect to currency markets. Central banks should pay attention to it.”

Keyakinan Greenspan terhadap emas tersebut selama 20 tahun menjabat dia aktualisasikan dengan menjaga US$ agar tidak keluar jauh dari nilai emas. Di awal dia menjabat Agustus 1987 harga emas berada pada angka rata-rata bulanan US$ 461/Oz, ketika pensiun akhir Januari 2006 harga emas rata-rata bulan itu berada pada angka US$ 549/Oz. Di masa pengelolaaannya, harga emas dalam US$ ‘hanya’ mengalami kenaikan sebesar 19% dalam 20 tahun.

Bandingkan misalnya dengan penggantinya Ben Bernanke yang belum genap lima tahun menjabat, harga emas sudah tidak terkendali dalam US$, naik dari rata-rata bulanan US$ 461/Oz Januari 2006 ke rata-rata US$ 1,250/Oz bulan ini atau mengalami kenaikan sebesar 171% dalam tempo kurang dari lima tahun !. Tidak sepenuhnya salah Ben Bernanke memang, tetapi setidaknya ini juga cerminan ketidak peduliannya sebagai Chairman of The Fed terhadap harga emas – yang seharusnya menjadi instrumen peringatan dini bagi daya beli uang kertas.

Tidak seperti pendahulunya yaitu Greenspan yang relatif mampu mengendalikan daya beli US$ terhadap emas karena menjadikan harga emas sebagai peringatan dini bagi uang fiat yang dikendalikannya, “...gold is canary in the coal mine...”.

Karena ignorance-nya para pengendali uang fiat kini, “...burung-burung canary di tambang batu bara...” telah pada sekarat dan sebagian mati, berupa harga emas yang melonjak 171 % dalam US$ selama kurang dari lima tahun terakhir, atau dalam Rupiah melonjak 160% pada periode yang sama (harga emas Rp 140,000/gram Januari 2006; Rp 365,000/gram September 2010) , maka kini waktunya – ‘para pekerja tambang’ – seperti kita-kita ini untuk menyelamatkan diri.

“Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya” (HR. Tirmidzi/Ibnu Majjah)

Harga Emas Dari September Ke September : Seasonal dan Systemic

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 15 September 2010 07:56

Ketika saya mulai tertarik mengkaji Dinar bulan September lima tahun lalu (2006), harga emas dunia saat itu masih berada di bawah US$ 600/Oz (September average US$ 598/Oz). Semalam harga emas dunia sempat ditransaksikan di angka US$ 1,275/Oz; dan average bulan ini (sampai tanggal 15) sudah mencapai US$ 1,250/Oz atau lebih dari dua kali lipat dari bulan yang sama lima tahun lewat. Ini menguatkan teori saya tentang peluruhan daya beli mata uang kertas yang memang rata-rata memiliki waktu paruh di kisaran 5 tahun saja !.

Memang teori ini perlu pembuktian secara ilmiah, namun biarlah para ilmuwan yang melakukannya. Sebagai pelaku ekonomi awam, saya sendiri cukup menggunakan pemahaman teori ini untuk menyelamatkan diri dari menjadi korban penurunan nilai mata uang kertas yang begitu terang benderang. Untuk pembuktian ilmiahnya sendiri, saya senang ada peserta Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang insyallah akan menyusun thesis Doktor-nya dengan subject peluruhan daya beli mata uang kertas ini.

Untuk bulan September sendiri, memang bulan ini adalah bulan yang khusus untuk harga emas dunia. Bahwa kenaikan harga emas yang terjadinya secara musiman atau seasonal di awali di bulan September, sudah pernah saya tulis sekitar satu setengah tahun lalu dengan judul Musim Membeli Emas/Dinar. Kenaikan yang bersifat musiman ini juga nampak di grafik dibawah, bila kumulatif kenaikan harga emas selama 5 tahun dari rata-rata tahunan hanya berada di angka 94% selama lima tahun ini; kenaikan kumulatif 5 tahun untuk rata-rata September mencapai 109%.

September Gold Price vs Annual

September Gold Price vs Annual

Tetapi kenaikan harga emas dari September ke September dan dari tahun ke tahun, tidak hanya bersifat seasonal – karena kalau hanya faktor seasonal – harga emas akan kembali rendah di bulan-bulan yang lain. Kenyataannya rendahnya di bulan-bulan lain sangat jarang menyamai rendahnya harga emas di bulan-bulan yang sama tahun sebelumnya. Dengan kata lain, ada kenaikan harga emas yang sifatnya terus menerus dan bersifat systemic dari tahun ke tahun.

Ada setidaknya 9 faktor systemic yang insyaAllah akan terus mendorong harga emas keatas yang saya ringkaskan dari karya Dr. Martin Murenbeeld – Chief Economist dari Dundee Wealth Economic sebagai berikut :

1. Global Fiscal and Monetary Reflation - yaitu Negara-negara di dunia yang masing-masing membanjiri ekonominya dengan hutang untuk sekedar tidak tenggelam dalam kebangkrutan.

2. Global Imbalances – dimana Dollar nampak perkasa hanya karena mata uang negara-negara lain melemah. Dollar sendiri sebenarnya terus melemah dengan neraca perdagangan yang terus deficit. Amerika sekurangnya akan menambah hutangnya sebesar US$ 10 Trilyun dalam dekade ini.

3. Excessive Global Foreign Exchange Reserves – cadangan devisa Negara-negara di dunia akan menggelembung secara exponential – tetapi tersimpan dalam nilai mata uang kertas yang nilainya terus menyusut – sementara cadangan emas negara-negara di dunia akan terus melanjutkan penurunannya yang sudah dimulai sejak tiga puluh tahun lalu (1980).

4. Central Bank Attitudes to Gold – bank-bank central dunia akan cenderung menambah cadangan emasnya dan hanya IMF yang menjual emasnya ( dan Indonesia yang menjual cadangan emasnya 24 % pada akhir 2006 lalu!). Bank sentral India misalnya membeli seluruh 200 ton emas yang dijual IMF akhir tahun lalu, sedangkan bank sentral China malah berhasil melipat gandakan cadangan emasnya dari 395 ton ke angka 1,054 ton dalam dekade terakhir.

5. Gold Is Not Bubble – harga emas adalah harga barang yang secara fisik tidak pernah kehilangan nilainya dalam sejarah peradaban manusia. Jadi tingginya harga emas bukan gelembung atau bubble – yang bisa meletus dan kehilangan nilainya.

6. Mine Supply Is Flat – Sumber-sumber emas dari galian tambang baru relatif tidak bisa mengejar pertumbuhan permintaan, selama 20 tahun terakhir galian baru ini hanya menambah supply sebesar 25 % atau rata-rata 1.25% saja per tahun.

7. Investment Demand – karena kekawatiran terhadap berbagai instrumen investasi lainnya, permintaan investasi pada emas akan terus meningkat secara global. Sejak awal 2009 permintaan emas dunia terus meningkat – bahkan pada kwartal kedua tahun ini permintaan tersebut dua kali lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini yang menjelaskan mengapa sepanjang tahun ini harga emas dunia tidak turun-turun.

8. Commodity Price Cycle – sejak tahun 1800 harga komodity dunia mengalami siklus naik turun yang periodenya masing-masing siklus bisa satu sampai beberapa dekade. Jadi bull cycle yang sekarang bisa saja masih akan terus berlangsung sampai beberapa tahun mendatang.

9. Geopolitical Environment – Secara historis harga emas selalu tinggi pada saat terjadi gejolak politik maupun finansial. Puncak harga emas dunia misalnya pernah terjadi di tahun 1980 ketika terjadi krisis penyanderaan warga AS di Iran yang nyaris memicu perang besar. Tahun- tahun mendatang masih banyak sumber konflik global yang bisa meledak kapan saja. Setelah meredanya krisis Iraq misalnya, masih ada krisis di Afganistan yang dipicu serangan tentara AS dan sekutunya ke negeri itu, krisis Palestina yang dipicu pendudukan tentara yahudi yang tidak berhak atas wilayah itu, keberanian Iran untuk terus menyiapkan program nuklirnya, demikian pula ancaman Korea Utara yang bisa nekat kapan saja.

Well, jadi meskipun bulan ini harga Dinar kemungkinan akan terus tinggi karena bahan bakunya yaitu emas dunia yang memang lagi tinggi; tidak ada yang bisa tahu apakah bulan-bulan kedepan atau tahun-tahun mendatang harga Dinar bisa turun lagi ?. Sesaat saya yakin bisa saja turun, tetapi dalam jangka panjang kecenderungan naik oleh 9 faktor tersebut diatas-lah yang akan lebih dominan. Kebutuhan kita akan proteksi nilai justru akan terus meningkat di waktu-waktu yang akan datang. Wa Allahu A’lam.

Kamis, 19 Agustus 2010

Penggunaan Emas/Dinar Dalam Pengelolaan Risiko ...

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 18 August 2010 08:53

Waktu saya belajar tentang manajemen risiko dahulu, hal yang mendasar yang kita pelajari antara lain adalah bagaimana memilah-milah risiko dari yang bisa terjadi dengan yang pasti terjadi. Untuk risiko yang masuk kategori bisa terjadi (kecelakaan misalnya), kemudian dipilah berdasarkan severity dan frequency-nya untuk kemudian dihindari, diminimisasi atau dihadapi. Untuk risiko yang pasti terjadi (kematian misalnya) – tidak ada pilihan lain kecuali harus di hadapi.

Naik turunnya harga emas dunia adalah juga merupakan suatu risiko; tetapi masuk kategori yang mana ?. Tergantung dari seberapa jauh kita memandangnya, untuk jangka pendek dia adalah risiko yang bisa terjadi (bisa naik atu turun), tetapi untuk jangka panjang dia lebih mendekati risiko yang pasti terjadi – uang fiat hampir pasti turun daya belinya terhadap emas. Sampai saat ini belum ada satupun uang kertas dunia yang mampu bertahan daya belinya terhadap emas dalam rentang waktu yang panjang.

Ambil contoh kasus harga emas tahun ini misalnya; bila dilihat dari statistik seharusnya sejak akhir Maret lalu sampai awal September nanti harga emas mestinya berada pada musim rendah. Namun untuk tahun ini nampaknya pola pergerakan harga musiman ini tidak berlaku, bahkan bulan Juni lalu harga emas dunia sempat berada di kisaran angka US$ 1,266/Oz. Per pagi ini harga emas dunia berada pada kisaran angka US$ 1,225/Oz - mengalami penurunan US$ 42/Oz atau turun 3% dari harga tertingginya 2 bulan lalu, namun angka ini masih US$ 270 lebih tinggi atau mengalami kenaikan 28.33% dari harga emas Dunia yang pada bulan yang sama tahun lalu yang berada di kisaran US$ 955/Oz.

Semakin panjang kita menarik rentang waktu yang kita lihat, akan semakin jelas penurunan daya beli uang kertas terhadap emas ini. Anda bisa perhatikan misalnya pada grafik 10 tahunan yang ada pada situs ini – trend naiknya dalam rentang waktu yang panjang menjadi amat sangat jelas.

Setelah apa yang terjadi dengan Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara 1997/1998, Amerika tahun 2008 dan Eropa tahun 2010 ini, kita semua baik individu , perusahaan maupun negara nampaknya kini memang perlu mengkaji kembali strategi pengendalian risiko yang dihadapinya. Satu aspek risiko yang begitu nyata mendekati kepastian, yaitu risiko penurunan daya beli uang kita – sangat bisa jadi masih luput dari konsideran kita dalam konteks implementasi pengendalian risiko.

Akan tidak ada gunanya misalnya suatu usaha mencapai sukses luar biasa dan menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi para investornya – bila keuntungan tersebut dihargai dengan suatu nilai uang kertas yang nilainya sendiri mengalami peluruhan dengan cepat. Demikian pula dengan hasil jerih payah kita; tidak ada gunanya kita tabung bila nilai daya belinya tidak bisa kita pertahankan.

Karena risiko penurunan nilai (baca : inflasi) uang kertas adalah suatu keniscayaan atau mendekati kategori risiko jenis kedua – yaitu risiko yang pasti terjadi, maka mau tidak mau kudu kita hadapi. Dengan apa kita menghadapinya ?, ya antara lain menggunakan emas atau Dinar ini. Seandainya toh karena satu dan lain hal emas atau Dinar belum bisa difungsikan sebagai alat tukar atau medium of exchange; penggunaan emas atau Dinar sebagai unit of account dan store of value akan dapat sangat efektif dalam pengelolaan risiko penurunan daya beli uang kertas atau inflasi. Wa Allahu A’lam

Rabu, 11 Agustus 2010

Target Puasa Tahun Ini : Ketakwaan dan Kemakmuran...

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 11 August 2010 05:48

Pada bulan Ramadhan seperti ini, ayat yang paling banyak kita dengar dari ceramah-ceramah adalah ayat “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS 2:183). Lantas sekian puluh tahun kita berpuasa di bulan Ramadhan, adakah kita sudah mencapai derajat orang-orang yang bertakwa ini ?.

Mungkin hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya; namun untuk menjawab ini kita butuhkan tolok ukur yang baku tentang siapa orang-orang yang bertakwa ini. Tolok ukur yang baku ini ada di 6 ayat sebelum ayat tersebut diatas yaitu QS 2 : 177 tepatnya berbunyi “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, danmenunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Secara individu diantara 235 juta penduduk Indonesia, sangat mungkin ada sekian juta orang yang mencapai atau mendekati derajat takwa – namun secara nasional nampaknya derajat ketakwaan ini masih rendah. Mengapa demikian ?, perhatikan tulisan saya sebelumnya “Jalan Mendaki Lagi Sukar...” yang didalamnya terdapat statistik bahwa rata-rata penduduk Indonesia ternyata tergolong miskin berdasarkan standar nishab zakat.

Kalau rata-rata miskin, lantas siapa yang bisa memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya ?. Lha wong sama-sama miskin, lebih banyak yang sama-sama berhak diberi ketimbang yang memberi.

Perhatikan salah satu kata kunci “memberi...” untuk mencapai “...orang-orang yang bertakwa” dalam ayat diatas, artinya adalah diperlukan derajat kemakmuran sedemikian rupa bagi bangsa ini sehingga rata-rata penduduknya berpenghasilan lebih besar dari nishab zakat. Bila sekarang rata-ratanya hanya sekitar 82.5% dari nishab zakat, maka diperlukan kenaikan PDB per Kapita sekitar 21% dari angka sekarang agar rata-rata penduduk negeri ini masuk kategori orang yang bisa memberi.

PDB per kapita adalah Produk Domestik Bruto (PDB) dibagi dengan jumlah penduduk. PDB sendiri adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. Jadi untuk menaikkan PDB per Kapita minimal 21 % dari kondisi yang ada, diperlukan kenaikan dengan persentasi yang sama untuk PDB secara nasional.

Lantas bagaimana kita bisa secara bersama-sama meningkatkan PDB yang merupakan representasi dari kemakmuran ini ?. Pertama kita harus tahu apa-apa yang bisa menaikkan PDB dan apa-apa yang menurunkannya. Salah satu pendekatan perhitungan PDB adalah menggunakan pendekatan pengeluaran sebagai berikut:

PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor - impor

Ketika orang-orang yang kaya memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, maka kemungkinannya adalah harta tersebut akan dikonsumsi – karena inilah kebutuhan utama bagi orang yang tidak mampu. Ketika konsumsi meningkat – maka PDB akan meningkat.

Tetapi nanti dulu, bila barang-barang yang dikonsumsi oleh penduduk tersebut ternyata adalah produk impor atau produk yang bahan bakunya impor; bersamaan dengan konsumsi naik – maka impor-pun naik sehingga PDB belum tentu meningkat. Karena nilai impor menjadi faktor pengurang dalam perhitungan PDB tersebut diatas, maka semakin besar impor – semakin rendah PDB atau semakin miskinlah kita semua.

Inilah problem di kita. Ketika kita membagi-bagikan makanan dalam berbagai kesempatan, kita sering membagi-bagikan mie instant yang berbahan baku terigu – yang mayoritasnya berbahan baku impor. Ketika kita membagi pakaian, pakaian tersebut terbuat sebagian besarnya dari kapas. Kapas yang dipakai untuk memproduksi pakaian-pakaian kita 99.5%-nya adalah impor.

Jadi, selagi ketergantungan kita begitu besar pada sandang dan pangan yang berbasis bahan baku impor – maka PDB tersebut menjadi sulit terangkat. Setiap kali konsumsi meningkat, impor juga meningkat.

Maka yang diperlukan berikutnya adalah diperbanyak investasi untuk mengolah potensi-potensi yang ada di sekitar kita – yang ada di negeri ini – minimal untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Diperlukan pula pengeluaran pemerintah yang mendorong atau memfasilitasi investasi tersebut. Investor yang mengolah bahan baku lokal harus dipermudah dengan kemudahan peraturan dan fasilitas, agar PDB terangkat.

Investasi dan pengeluaran pemerintah hendaknya di fokuskan untuk mencari solusi pengganti dari ketergantungan produk atau bahan baku impor. Bila selama ini kita diserbu oleh bahan baku pangan berupa terigu yang harus diimpor misalnya, mengapa tidak didorong usaha-usaha yang meng-eksplorasi bahan pangan local seperti jamur, tepung pisang, tepung garut, sagu, mocaf (modified cassava flour) dlsb. ?.

Demikian juga untuk sandang, Indonesia hanya sedikit sekali produksi kapasnya – hanya sekitar 0.5% dari kebutuhan. Lantas mengapa tidak difokuskan mencari bahan baku sandang yang tidak tergantung pada kapas yang harus diimpor 99.5%-nya, kita ganti dengan serat dari gedebog pisang yang tumbuh dengan mudah di seluruh negeri misalnya.

Dengan kita menyadari apa-apa yang meningkatkan PDB dus meningkatkan pula PDB per kapita atau kemakmuran tersebut diatas – dan apa-apa pula yang menurunkannya; maka insyallah kita bisa berbuat searah dengan upaya peningkatannya – dan bukan sebaliknya.

Tentu hal ini tidak ada yang mudah dan inilah “Jalan Mendaki Lagi Sukar...” itu; juga tidak akan terjadi secara instant, perlu kerja keras bertahun-tahun dengan mensinergikan seluruh elemen umat. Namun bila kita tidak mulai-nya dari sekarang, sulit membayangkan kapan kemakmuran akan datang kepada umat ini ?.

Maka melalui ibadah puasa kita tahun ini, marilah kita berlomba mencapai derajat takwa yang sesungguhnya, derajat takwa yang membawa kita untuk mampu “memberi...”, derajat takwa yang memakmurkan !. Insyaallah...

Kamis, 05 Agustus 2010

Sanering, Redenominasi dan Reorientasi Nilai...

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 04 August 2010 07:53

Adalah konsekwensi logis dari mata uang yang terus mengalami inflasi akan bertambah terus nol-nya dari waktu ke waktu. Untuk Rupiah, tiga angka nol yang pernah dibuang dengan susah payah tahun 1965/1966 melalui apa yang dikenal dengan Sanering Rupiah , tiga angka nol tersebut 32 tahun kemudian kembali memenuhi angka uang kita bahkan kembalinya cenderung tidak cukup tiga angka nol, melainkan malah menjadi empat atau bahkan lima angka nol. Mau bukti ?, lihat di dompet Anda – kemungkinan besar hanya uang dengan empat atau lima angka nol yang ada di dompet – karena yang nolnya hanya tiga kemungkinan sudah untuk bayar parkir, masuk kencleng infaq atau diberikan ke Pak Ogah...

Akibat dari bertambahnya angka nol terus menerus tersebut, secara berkala memang dibutuhkan otoritas yang berani mengambil keputusan untuk me-reset kembali agar angka-angka nol tersebut kembali ke jumlah semula. Proses me-reset ini bisa melalui Sanering bila ekonomi lagi gonjang-ganjing, atau melalui proses Redenominasi bila ekonomi lagi stabil. Yang pertama (Sanering) disertai penurunan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai, yang kedua (Redenominasi) hanya pencatatan beberapa angka nol-nya yang dihilangkan sedangkan daya beli masyarakat seharusnya tidak berubah.

Proses keduanya membuat panik, menyakitkan, membingungkan dan segala macam konsekwensinya – tetapi saya sendiri berpandangan justru harus dilakukan dengan berani dan cepat. Bila berlama-lama, justru akan membuat kebingungan dan ketidak pastian yang lama. Bila kita menutup mata, justru angka-angka nol yang bisa terus bertambah tersebut akan berlama-lama merepotkan dan menghantui kita semua.

Bila dilakukan dengan berani dan cepat; rasa sakit tersebut akan berlangsung cepat – namun setelah itu kita akan bersyukur telah melalui masa yang menyakitkan tersebut. Bayangkan bila tahun 1965 (diimplementasikan sampai 1966) pemerintah negeri ini tidak berani mengambil keputusan Sanering – Indonesia mungkin tidak akan pernah bisa membangun – dan bisa Anda bayangkan berapa angka nol uang kita sekarang ?.

Demikian pula bila otoritas sekarang tidak berani mengambil keputusan untuk meng-implementasikan proses Redenominasi ini; berapa angka nol uang kita pada saat Anak Anda yang baru lahir sekarang masuk perguruan tinggi delapan belas tahun yang akan datang ?. Jadi Redenominasi tetap harus dilakukan, tinggal masalahnya kapan dan siapa yang berani mengambil keputusan tidak popular tetapi perlu ini. Saya mengenal cukup baik (Pjs) Gubernur BI yang sekarang dan sungguh saya berharap beliau berani melakukannya, karena bila tidak maka yang terjadi adalah membiarkan hantu Redenominasi ini berlarut-larut ke pejabat berikutnya, kemudian pejabat berikutnya lagi dst.

Bila Redenominasi tidak dilakukan, ironi yang terjadi seperti yang kita alami sekarang akan terus berlanjut. Ironi karena rata-rata penduduk Indonesia secara harfiah dapat disebut ‘Jutawan’ (Millionaire) karena PDB Per kapita kita mencapai lebih dari Rp 24,000,000/ tahun, tetapi rata-rata ‘Jutawan’ tersebut adalah orang miskin menurut standar Islam – karena nilai Rp 24,000,000,- ini hanya setara sekitar 16.50 Dinar atau tidak mencapai nisab zakat yang 20 Dinar.

Bila keputusan Redenominasi benar-benar dilaksanakan, yang perlu dipersiapkan oleh masyarakat adalah proses Reorientasi nilai. Mengapa proses ini perlu ?, berikut saya berikan ilustrasinya.

Saya pernah mendengar keluhan pelayan hotel di daerah wisata negeri ini yang dikunjungi banyak turis asing. Ketika mereka mengantarkan pesanan room service, sering diberi tips hanya Rp 1,000,- atau bahkan koin Rp 500,-. Hal yang sama yang terjadi pada sopir taksi, para wisatawan asing tersebut tidak jarang yang menagih kembalian meskipun kembalian tersebut hanya Rp 1,000,- atau bahkan Rp 500,-.

Mengapa kesan pelitnya beberapa turis asing tersebut terjadi ?; inilah masalah Reorientasi nilai itu. Meskipun sebelum datang ke Indonesia mereka sudah pelajari angka-angka di uang kita ini dan konversinya ke nilai uang mereka; Orientasi nilai dibenak mereka masih tetap menyatakan bahwa angka 1,000 atau 500 adalah angka yang besar. Karena ketika membayar tips dan menagih kembalian, otak mereka tidak selalu sempat mengkonversi nilai ke angka nilai yang benar – maka itulah yang terjadi, nilai tips hanya Rp 1,000 dan uang kembalian taksi secara recehan –pun diminta.

Ini pula yang akan terjadi pada proses Redenominasi, orientasi di otak kita telah terbiasa dengan angka-angka besar. Ketika angka-angka tersebut berubah menjadi kecil, kita harus melatih otak kita untuk terbiasa dengan angka-angka yang menjadi kecil ini. Nampaknya mudah, tetapi karena ini harus terjadi secara massal bagi seluruh pengguna Rupiah – maka diperlukan sosialisasi yang efektif.

Apa dampaknya bila Reorientasi nilai tidak berjalan efektif ?, harga-harga bisa kacau. Misalnya si embok tukang bayem biasa menjual satu ikat bayemnya Rp 2,500,-. Dalam mata uang Rupiah baru angka tersebut seharusnya menjadi Rp 2.5,- tetapi dibenak si embok menyatakan bahwa angka Rp 2.5 ini terlalu kecil, maka dinaikanlah harga bayem dinaikkan menjadi Rp 3,-. Tanpa sadar Anda sebagai pembeli-pun meresponse angka Rp 3 tersebut dapat diterima karena lebih mudah membayarnya – dan terasa kecil oleh Anda. Maka apa yang terjadi sesungguhnya adalah inflasi 20% terhadap harga bayem.

Jadi baik produsen, pedagang mapun konsumen harus membiasakan kembali response otomatisnya yang akurat terhadap harga atau nilai barang-barang yang wajar – inilah Reorientasi yang saya maksud.

Disinilah sebenarnya keunggulan dan kebenaran Islam itu dapat terbukti dengan jelas. Kita tidak perlu kehilangan orientasi dalam hal apapun dan kapanpun – karena tuntunannya, arahannya, nilai-nilainya berlaku baku sepanjang zaman. Seperti sholat yang kita tidak perlu lagi bertanya menghadap kemana, tinggal kita tahu dimana kita berada dan dimana Ka’bah berada – maka seluruh umat sepakat kesitulah kita menghadap.

Demikian pula dalam hal nilai, kita bisa dengan mudah dan jelas dengan timbangan yang tidak pernah berubah untuk menimbang siapa yang kaya dan siapa yang miskin dengan nishab zakat yang 20 Dinar. Yang kaya wajib membayar zakat, yang miskin berhak menerima zakat – betapa kacaunya hak dan kewajiban ini seandainya nilai nishab tersebut perlu Sanering ataupun Redenominasi dari waktu kewaktu.

Maka saya-pun berandai-andai, Seandainya saja otoritas yang ada sekarang berani menggunakan satuan Dinar setidaknya sebagai unit of account atau timbangan yang adil – maka generasi-generasi yang akan datang dan gubernur-gubernur bank sentral yang akan datang sampai hari kiamat akan bersyukur – betapa mudahnya tugas mereka karena tidak harus lagi dari waktu ke waktu mengambil keputusan yang amat sangat sulit seperti Redenominasi Rupiah ini.

Sekali Dinar digunakan, nilai/daya belinya stabil – 1 Dinar satu kambing tetap sampai akhir zaman, maka tidak akan lagi pernah diperlukan Redenominasi atau bahkan Sanering. Bila ini terjadi maka Reorientasi juga tidak akan perlu dilakukan lagi. WaAllahu A’lam.

Rabu, 04 Agustus 2010

Pergeseran Paradigma Dalam Penggunaan Emas...

Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 02 August 2010 09:09

Mungkin ada yang luput dari pengamatan para ekonom secara umum, bahwa dalam sepuluh tahun terakhir (2000-2009) ternyata ada pergeseran paradigma yang luar biasa dalam penggunaan emas dunia. Berdasarkan data yang dikumpulkan secara rutin oleh World Gold Council (WGC) atau Dewan Emas Dunia , permintaan emas di seluruh dunia untuk kebutuhan perhiasan telah mengalami penurunan terus menerus dari 3,204 ton tahun 2000, tinggal 1,747 ton tahun 2009 lalu atau turun 45 %.

Sebaliknya, permintaan emas untuk kebutuhan investasi retail terus menerus mengalami peningkatan kebutuhan dari 166 ton tahun 2000, menjadi 676 ton tahun 2009 atau mengalami kenaikan empat kalinya. Bentuk investasi emas yang lain yang dikenal dengan ETF (Exchange Traded Fund) yang baru muncul pada tahun 2003 di bursa-bursa dunia barat seperti Paris, Zurich, London dan New York, juga menanjak sangat significant dari Nol tahun 2002, mencapai 595 ton tahun 2009 atau hampir mengejar penggunaan pada investasi retail.

Kebutuhan yang relatif stabil adalah kebutuhan emas untuk industri. Pada tahun 2000 kebutuhan ini mencapai angka 451 ton, tahun 2009 angka ini pada 368 ton. Lebih detil tentang pergeseran ini dapat dilihat pada grafik dibawah.

Gold Demand 2000-2009 (Ton)

Luputnya pergeseran kebutuhan tersebut dari pengamatan para ekonom, dugaan saya sendiri adalah karena para ekonom biasanya meganalisa segala sesuatu berdasarkan unit account currency yang berlaku. Para ekonom dunia misalnya menggunakan US$ untuk memantau segala yang terjadi dalam pergerakan ekonomi.

Bila data tersebut diatas diamati dari kacamata US$ misalnya, tidak akan nampak pergeseran kebutuhan tersebut karena kebutuhan baik untuk perhiasan, investasi retail, ETF maupun kebutuhan industri semuanya naik. Kenaikan harga emas sepuluh tahun terakhir begitu besarnya sehingga mampu ‘menyembunyikan’ penurunan kebutuhan emas untuk perhiasan tersebut diatas.

Gold Demand 2000-2009 (U$ Bio)

Gold Demand 2000-2009 (US$ Bio)

Lantas apa pentingnya memahami perubahan kebutuhan tersebut bagi kita ?. Meskipun secara statistik dunia, penggunaan emas untuk uang tidak bisa didata lagi karena berdasarkan rezim keuangan global yang dikomandoi IMF – emas untuk uang terlarang sejak Agustus 1971, pergeseran emas untuk investasi ini sesungguhnya adalah selangkah maju menuju emas untuk uang.

Karakter emas sebagai investasi adalah likuid dan standar, sedangkan karakter emas perhiasan adalah tidak standar dan kurang likuid. Jadi sepuluh tahun terakhir telah tumbuh lebih banyak emas yang bersifat likuid, sedangkan permintaan emas untuk menjadi perhiasan yang kurang likuid menurun.

Di tanah air, perkembangan yang menarik tentang likuid-isasi emas juga terjadi secara significant. Kalau dahulu hanya Perum Pegadaian yang bisa menerima gadai, kini bank-bank syariah berlomba dengan produk gadai emas-nya. Ini saya pandang sebagai hal yang baik karena asset-asset berupa emas, baik lantakan, Dinar maupun perhiasan kini mudah menjadi likuiditas untuk menggerakkan sektor riil. Tidak harus dijual, tetapi bisa juga digadai.

Untuk lebih meningkatkan penggunaan emas untuk kegiatan produktif ini, saat ini kami bersama beberapa BMT di berbagai kota tengah mengembangkan solusi pembiayaan micro berbasis Dinar. Microfinance berbasis uang fiat yang lagi ngetop di seluruh dunia saat ini, insyallah akan segera menemukan sparring partner-nya yaitu microfinance yang berbasis emas atau Dinar yang kita sebut MicroDinar.

Pengelola koperasi dan BMT yang berminat untuk bekerjasama dengan kami dalam pengembangan produk-produk pembiayaan mikro berbasis Dinar atau MicroDinar ini dapat menghubungi kami untuk elaborasi lebih lanjut. Melalui sektor mikro yang mengurusi hajat hidup orang banyak inilah insyallah kita bersama bisa memenuhi apa yang dipesankan dalam Ayat “...supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu...”. (QS 59:7),