Minggu, 31 Oktober 2010

Risk and Return : Antara Saham Dengan Emas, Pilih Mana...?.

Oleh Muhaimin Iqbal
Selasa, 26 October 2010 06:22

Tulisan saya bulan Juli lalu dengan judul “Pilihan Investasi : Saham Atau Emas...?” telah memberikan gambaran perbandingan antara investasi di bursa saham internasional yang direpresentasikan oleh Dow Jones Industrial Average (DJIA) dengan investasi di pasar emas internasional. Lantas timbul banyak pertanyaan atas tulisan tersebut, apakah kondisinya juga demikian untuk pasar lokal ?. Meskipun saya belum sempat melakukan riset sendiri untuk menjawabnya, Alhamdulillah ternyata saya tidak perlu menjawabnya sendiri karena ada pembaca situs ini yang bisa secara ilmiah, objektif dan meyakinkan menjawab pertanyaan tersebut melalui Thesis S-2 Program Studi Magister Akuntansi di perguruan tinggi negeri ternama dan salah satu yang tertua di negeri ini.

Pembaca tersebut adalah Sri Pangestuti yang lulus dengan nilai A untuk thesis S-2 nya yang berjudul “Analisis Return LQ45 Dibandingkan Return Emas dan faktor-Faktor Yang mempengaruhi Return LQ45 dan Return Emas Selama Periode 1995 – 2010 ”. Untuk keperluan penelitian ini, Sri Pangestuti menggunakan data sekunder yang antara lain diperoleh dari jurnal Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia, data pasar modal Indonesia dari Bursa Efek Jakarta dan berbagai sumber lainnya termasuk data dari internet.

Sebagai pembanding emas digunakan data dari 45 saham-saham unggulan atau yang disebut LQ 45 atau juga biasa disebut saham-saham blue chips – yang pada umumnya memberikan imbal hasil yang tinggi. Sri Pengestuti menggunakan berbagai uji statistik yang sangat njlimet untuk bisa meyakinkan para pengujinya – yang tentunya juga sangat menguasai bidangnya masing-masing sebelum akhirnya lulus dengan sempurna (nilai A).

Berbagai pengujian ilmiah tersebut menjadi terlalu teknis untuk saya angkat disini, namun yang sangat menarik adalah butir-butir kesimpulan thesis Sri Pangestuti yang saya kutip secara lengkap dengan ijin langsung dari yang bersangkutan sebagai berikut :

1. Harga emas yang telah di-adjust dengan inflasi menunjukkan trend peningkatan harga yang lebih tinggi daripada nilai indeks LQ45 yang juga telah di-adjust dengan inflasi. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli (purchasing power) emas dalam jangka panjang lebih baik daripada saham LQ45 sehingga dapat disimpulkan bahwa investasi emas dalam jangka panjang lebih menguntungkan daripada investasi saham LQ45 karena daya belinya lebih baik.

2. Return emas yang telah di-adjust dengan inflasi dalam jangka pendek lebih fluktuatif dibandingkan return LQ45 yang juga telah di-adjust dengan inflasi. Dalam jangka pendek LQ45 memberikan return yang lebih baik dalam arti lebih stabil dibandingkan emas.

3. Dari point 1 dan 2 tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa investasi saham LQ45 dalam jangka pendek lebih baik dibandingkan emas karena fluktuasinya lebih rendah daripada emas. Namun dalam jangka panjang emas memberikan return yang lebih baik yang ditunjukkan oleh harga emas yang jauh lebih tinggi dibandingkan saham LQ45, dan purchasing power emas lebih baik daripada saham LQ45.

4. Return LQ45 dan return emas dipengaruhi secara bersama-sama oleh faktor-faktor perubahan kurs, harga crude oil, inflasi, dan jumlah uang beredar, serta peristiwa-peristiwa politik/ekonomi secara signifikan.

5. Perubahan kurs, inflasi, dan jumlah uang beredar secara individual mempengaruhi return LQ45 dengan signifikan. Sementara faktor yang signifikan mempengaruhi return emas secara individual adalah perubahan kurs dan uang beredar. Sementara perubahan harga minyak mentah (crude oil) dan peristiwa-peristiwa politik/ekonomi tidak mempengaruhi baik return LQ45 maupun return emas.

6. Untuk tiap unit risiko LQ45 memberikan return sebesar 0,08567 atau 8,567%, sementara emas memberikan return sebesar 0,19840 atau 19,840% untuk tiap unit risiko. Bila diperbandingkan di antara keduanya, untuk tiap unit resiko yang sama emas memberikan hasil lebih besar yaitu 2,31577 kali dari yang diberikan oleh saham LQ45.

LQ45 vs Emas

LQ45 vs Emas

Saya terus terang sangat gembira ketika mendapatkan dari penulis langsung copy dari thesis tersebut. Bukan hanya karena butir-butir kesimpulannya yang secara umum selaras dengan pola pikir yang kita kembangkan di situs ini, tetapi juga karena mulai munculnya kajian ilmiah yang objektif tentang kinerja emas ini. Emas tidak bisa lagi diolok-olok sebagai bentuk investasi yang kuno, karena kini terbukti bahwa dalam jangka panjang emas lebih baik dari saham-saham blue chip sekalipun.

Hasil thesis ini mungkin bisa membuat sebagian orang kawatir kalau para investor ter-discourage untuk investasi di pasar modal dan rame-rame pindah ke emas. Menurut saya sendiri hal ini tidak perlu terjadi, malah sebaliknya – seharusnya menjadi pendorong agar bursa saham bisa me-representasi-kan kinerja sektor riil secara lebih baik. Dapat pula menjadi pendorong bagi para investor agar lebih memperhatikan kinerja riil para emiten daripada isu-isu sentimen pasar sesaat.

Mengapa demikian ?, investasi terbaik menurut saya sendiri adalah investasi sektor riil yang dijalankan dengan baik. Bahwasanya ternnyata saham-saham unggulan sekalipun tidak memberikan hasil lebih baik dari emas (yang sejatinya bernilai tetap – hanya kelihatan terus naik nilainya karena nilai emas diukur dengan nilai mata uang yang nilainya terus mengalami peluruhan), ya karena bursa saham itu sendiri selama ini belum berhasil merepresentasikan kinerja sektor riil yang seharusnya diwakilinya.

Harga-harga saham bisa saja menjulang meskipun kinerja perusahan emiten-nya biasa-biasa saja; sebaliknya, harga bisa hancur lebur padahal kinerja emitennya masih ok. Pergerakan naik turunnya harga yang lebih banyak didorong isu sentimen pasar sesaat dan bukan disebabkan oleh faktor fundamental tersebutlah yang telah membuat investasi pada saham unggulan sekalipun beresiko lebih tinggi dari investasi emas dan pada saat yang bersamaan memberikan hasil yang lebih rendah dari appresiasi harga emas (butir kesimpulan no 6).

Lebih lanjut thesis semacam ini bisa menjadi pemicu agar para investor bertindak cerdas dalam ber-investasi terutama bila ber-investasi pada jenis investasi yang sophisticated seperti pada bursa saham tersebut diatas. Bila tidak yakin bisa melakukannya dengan benar – ya pilihannya ada di kesimpulan no 6 tersebut diatas.

Kedepannya akan dibutuhkan thesis-thesis sejenis untuk berbagai bidang investasi lainnya, agar investor awam terbantu melihat segala sesuatunya secara lebih jernih. Maka ketika Sri Pangestu mengutarakan niat untuk mengambil tema teori peluruhan mata uang kertas sebagai thesis S-3 yang akan ditempuhnya – insyaAllah kami siap mendukung sepenuhnya. Dari thesis Doktor ini kelak masyarakat akan bisa melihat lagi secara ilmiah, objektif dan transparan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada uang kertas.

Segala tulisan dan penjelasan saya di situs ini yang selama ini hanyalah analisa orang awam yang mengandalkan ‘kecerdasan jalanan’ – street-smart – insyaAllah satu demi satu akan mendapatkan dukungan dan pembenaran ilmiahnya. Amin.


Di-update pada Selasa, 26 October 2010 06:35

Minggu, 24 Oktober 2010

Harga Emas : Noise Dari Pertemuan G-20...

Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 25 October 2010 07:26

Ada peristiwa penting yang terjadi Sabtu lalu (23/10/2010) yang untuk sesaat mungkin akan berpengaruh pada harga emas dunia. Peristiwa tersebut adalah pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara-negara kelompok G-20 di Gyeongju - Korea Selatan. Hasil pertemuan ini intinya adalah para otoritas keuangan dari negara-negara yang me-representasikan 85% kekuatan ekonomi dunia tersebut – menyepakati untuk tidak melemahkan mata uang masing-masing atau perang kurs.

Bila kesepakatan ini bener-bener tulus dan pasar percaya akan keseriusan para pemimpin ekonomi dunia tersebut, maka seharusnya – minimal untuk sementara harga emas akan turun. Pertama karena meredanya kekawatiran nilai tukar Dolar akan turun secara drastis, dan kedua kebutuhan emas untuk safe haven menurun ketika ketidak pastian ekonomi berkurang.

Bila inipun terjadi, saya masih mengkategorikannya sebagai noise dan belum menjadi signal karena sifatnya sementara dan tidak dipicu oleh faktor-faktor yang bersifat fundamental. Untuk signal-nya sendiri, saya melihat trend harga emas dunia yang masih akan terus menaik dalam jangka menengah maupun jangka panjang oleh sebab faktor-faktor fundamental berikut :

1. Harga emas dunia saat ini dinilai dalam US$, jadi tinggi rendahnya tergantung pada daya beli US$ itu sendiri.

2. Tinggi rendahnya US$ tergantung pada situasi ekonomi Amerika Serikat. Kenyataannya sampai kemarin-pun (sehari setelah kesepakatan G-20) menteri keuangan negeri itu masih terus berusaha menekan counterpart-nya dari China agar menaikkan nilai tukar Yuan. Artinya Amerika masih merasa daya beli uangnya ketinggian sehingga tidak kompetitif dalam perdagangan global khususnya dengan China. Untuk kepentingan Amerika, US$ akan cenderung ditekan melemah ketimbang menguat.

3. Hari-hari ini Amerika tenggelam dalam hutang dan kewajiban-kewajiban yang besarnya 8 kali GDP mereka. Pemerintahan mereka saat ini juga terkenal pemerintahan yang boros dan tidak peduli dengan defisit anggaran. Tahun ini saja Obama akan membelanjakan US$ 3.5 trilyun untuk perbagai program populisnya.

4. Bila dalam suatu negara, produksinya tidak cukup untuk membayar hutang, kewajiban dan belanja yang terus membengkak, apa yang akan mereka lalukan ?. Mencetak uang dari awang-awang atau bahasa kerennya Quantitative Easing. Yang pertama sudah mereka lakukan dua tahun lalu untuk mencegah negeri itu terjun bebas dalam krisis, yang kedua para pengamat rata-rata sepakat akan segera mereka lakukan dalam waktu dekat.

5. Bila uang terus dicetak tanpa diimbangi oleh peningkatan produksi yang seimbang, pastilah nilai uang itu jatuh dan harga barang-barang yang dibeli dengan tersebut akan terus menanjak.

Jadi mumpung ada noise yang untuk sementara menurunkan harga emas dan otomatis juga Dinar, hari-hari ini Insyaallah menjadi hari-hari yang baik untuk mengamankan asset atau setidaknya men-diversifikasi-kan asset dari denominasi mata uang kartas yang rawan penurunan nilai – ke asset riil yang bebas dari pengaruh daya beli mata uang kertas.

Bila selama ini Anda bangga mempunyai tabungan dalam US$, asuransi jiwa dalam US$ dan juga bahkan Anda juga memegang uang kertas fisik yang juga US$; ketahuilah bahwa daya belinya terhadap emas terus nyungsep dan trend-nya memang nampaknya akan tetap nyungsep. Berlebihan kah saya ?, perhatikan grafik dibawah – InsyaAllah saya tidak berlebihan. InsyaAllah.

US$ Value Relative to Gold

US$ Value Relative to Gold

Rabu, 06 Oktober 2010

Harga Emas Melejit : Seberapa Tangguh Dinar Real Time Engine Kita...?

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 06 October 2010 07:30

Tanpa terasa sudah lebih dari dua tahun engine yang kami pakai untuk menghitung nilai tukar Dinar secara real time beroperasi sejak kami perkenalkan tanggal 3 Juli 2008. Dari waktu ke waktu algorithm dan sumber data kami review untuk make sure bahwa hasil-hasil perhitungan harga Dinar real time ini tidak ngaco, lebih-lebih pada saat harga emas dunia melejit seperti dalam dua hari terakhir.

Pagi ini ketika harga di perhitungan engine kami tersebut mencapai angka Rp 1,666,770 /Dinar; sekali lagi kami review engine tersebut – apakah hasil perhitungannya sudah benar ? Apakah harga Dinar kami ini tidak ketinggian ? dst. Meskipun confident dengan hasil perhitungan tersebut, tidak segan kami melakukan check and recheck. Berikut adalah poin-poin yang antara lain kami check :

1) Kami check kenaikan harga Dinar ini apakah proporsional dengan kenaikan harga emas dunia, setelah memperhitungkan nilai tukar Rupiah.

2) Kami check apakah sumber data harga emas dunia yang kami pakai memberikan masukan data yang in-line dengan data-data publik yang ada seperti Kitco dlsb. Untuk diketahui, kami selalu menggunakan dua dari tiga sumber data real time yang kami miliki – jadi bila ada masalah dengan salah satu sumber data tersebut – engine kami akan selalu mengambil yang tidak bermasalah atau yang memberikan data secara konsisten.

3) Kami check dan bandingkan pula dengan harga Dinar emas yang available dari negara lain. Tidak dari provider di Indonesia untuk menghindari subjektivitas persaingan yang tidak perlu, bagi kami penyedia Dinar lain di Indonesia adalah sparring partner dalam rangkafastabihul khairat – bukan pesaing.

Untuk poin pertama, pembaca juga dapat melakukan sendiri karena semua data baik harga Dinar real time maupun harga emas dan nilai tukar yang diperlukan tersaji di situs GeraiDinar.Com ini . Data-data tersebut ter-updated otomatis setiap 6 jam untuk transaksi , setiap 10 menit untuk data grafis deteksi trend harga, dan real time untuk harga emas dunia dan exchange rate.

Untuk poin kedua tidak bisa kami share secara angka karena menyangkut Intellectual Property Right (IPR), tetapi out-put-nya berupa harga emas dunia yang tersaji di situs ini dapat dibandingkan langsung dengan data publik yang ada seperti dari Kitco.com. Tidak akan sama persis dengan data Kitco.com misalnya, karena seperti yang kami jelaskan diatas – data kami adalah dua dari tiga data yang available secara konsisten.

Untuk poin ketiga, alhamdulillah sekarang saudara-saudara kita di Malaysia melalui World Islamic Mint Malaysia; dan Abu Dhabi melalui World Islamic Mint-nya juga mulai meng-up-dateharga Dinar setiap hari. Meskipun tidak sesering yang dilakukan otomatis oleh engine kami yaitu setiap 6 jam, up-date yang mereka lakukan sekali setiap 24 jam ( setiap jam 15 waktu London) cukup memadai untuk kita gunakan sebagai pembanding. Melalui link-link yang saya berikan tersebut diatas, Anda juga dapat melakukan analisa perbandingan ini sendiri.

Untuk pagi ini misalnya, ketika harga Dinar di GeraiDinar menujukkan angak Rp 1,666,770 ; di WIM Malaysia menujukkan harga RM 627 atau kalau di Rupiahkan menjadi Rp 1,806, 199,-. Akhir pekan lalu ketika harga kami berada di angka Rp 1,627,600 ; angka mereka berada di RM 614 atau bila di Rupiah-kan menjadi Rp 1,780,600. Jadi secara persistent harga Dinar di Malaysia lebih mahal dari harga Dinar GeraiDinar.

Demikian pula dengan harga Dinar versi WIM Abu Dhabi dalam USD dan Euro. Dari kami pembanding yang kami gunakan adalah harga Dinar kami dalam USD dan Euro yang selalu tersaji otomatis di M-Dinar. Per pagi ini harga Dinar kami dalam USD adalah USD 185.06 dan dalam Euro adalah EUR 133.77 ; Anda dapat bandingkan langsung dengan harga WIM Abu Dhabi yang masing-masing menunjukkan harga pada USD 200.05 dan EUR 145.07. Dari data yang kami amati sejak pekan lalu, kami juga jumpai harga dari WIM Abu Dhabi secarapersistent lebih mahal dari harga Dinar dalam USD dan EUR-nya GeraiDinar/M-Dinar.

GD Price vs WIM Malay & WIM Abu Dhabi

GD Price vs WIM Malay & WIM Abu Dhabi

Memang harga-harga kami yang persistent dibawah harga di Malaysia misalnya, berpotensi membawa masalah tersendiri dalam kaitan stock availability Dinar. Dinar dengan kwalitas tinggi kami yang di produksi oleh Logam Mulia dan terakreditasi dengan LBMA (London Bullion Market Association), bisa saja tiba-tiba diborong oleh orang-orang Malaysia karena harga yang lebih rendah tersebut. Bila ini terjadi maka akan ada kelangkaan Dinar LM di dalam negeri kita.

Untuk mencegah aliran Dinar keluar ini, sementara waktu kami tidak akan menaikkan harga Dinar real time ini dengan mengubah algorithm di engine kami misalnya – tetapi kepada seluruh agen dan pengguna Dinar agar aware – bila ada arus pembelian Dinar dalam sekala besar.

Bila nantinya risiko Dinar lari keluar negeri tersebut menjadi imminent (semakin nyata untuk terjadi) , maka tidak tertutup kemungkinan engine Dinar real time tersebut kami sesuaikan dengan harga-harga Dinar fisik yang ada di Malaysia, Abu Dhabi dlsb.

Jadi untuk sementara ini, setelah dua tahun lebih berjalan engine Dinar real time masih kami anggap cukup tangguh untuk menghasilkan harga Dinar yang akurat dan terjangkau oleh konsumen pengguna di Indonesia – meskipun memberikan harga Dinar fisik yang persistentlebih rendah dari harga Dinar di negara lain. Memang ada harga Dinar elektronis yang lebih murah seperti di e-Dinar, tetapi di situs mereka ini bila Anda membeli Dinar fisik – harga yang dijual adalah harga Dinar fisik WIM Abu Dhabi tersebut diatas – jadi tetap lebih mahal bila dibandingkan apple to apple dengan Dinar fisik GeraiDinar.

Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk amal Shaleh yang diridloiNya.


Minggu, 26 September 2010

Harga Emas : Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian...

leh Muhaimin Iqbal
Senin, 27 September 2010 05:34

Ketika saya menulis tentang kinerja Dinar emas melalui tulisan tanggal 24/09/2010 – dimana di tulisan tersebut saya ungkapkan data bahwa harga Dinar emas telah melonjak 71.29% selama tiga tahun terakhir, berbagai pertanyaan disampaikan pembaca situs ini ke saya. Diantaranya adalah apakah harga emas atau Dinar sudah ketinggian sekarang sehingga waktunya menunggu harga turun sebelum membeli (lagi) ?.

Melihat harga emas dunia yang hampir menyentuh US$ 1,300/Oz dan harga Dinar sudah diatas Rp 1,600,000/Dinar , maka memang betul bahwa harga emas atau Dinar sudah sangat tinggi. Namun harga yang tinggi ini tidak harus berarti ‘ketinggian’ yang berkonotasi akan turun kembali.

Seberapa tinggi atau seberapa rendah harga emas yang dibeli dengan US$ atau Rupiah, sangat tergantung dengan kekuatan daya beli US$ atau Rupiah itu sendiri. Jadi Emas atau Dinar akan naik lagi atau akan turun, tergantung kearah mana kekuatan daya beli US$ atau Rupiah bergerak.

Masyarakat dunia melacak trend kekuatan daya beli US$ dengan US Dollar Index (USDX), sedangkan untuk Rupiah saya melacaknya dengan Rupiah Index (IDRX) – yang perhitungannya pernah saya perkenalkan lewat tulisan saya akhir tahun lalu.

Bila trend USDX dan IDRX tersebut kita sandingkan dengar trend pergerakan harga emas sejak tiga tahun lalu, hasilnya akan seperti grafik dibawah. Meskipun ruwet seperti benang kusut, namun grafik ini menyiratkan suatu pola yang bisa dibaca dengan cukup jelas.

IDRX, USDX and Gold Trend

IDRX, USDX and Gold Trend

Perhatikan garis biru (USDX) dan kuning (Emas dalam US$/Oz), keduanya bergerak berlawanan arah sampai awal tahun ini. Artinya bila USDX yang mencerminkan daya beli US$ menguat, maka harga emas akan cenderung turun. Ini terjadi dalam situasi normal, maupun dalam kondisi krisis – bila krisisnya bersumber dari US$ atau Ekonomi Amerika itu sendiri.

Kemudian selama kurang lebih enam bulan berikutnya, terjadi anomaly yaitu harga emas dalam US$ naik bersamaan dengan naiknya daya beli US$. Kok bisa ? pada periode ini Dollar menguat – tetapi daya belinya terhadap emas tetap menurun (harga emas tetap naik) karena penguatan Dollar tersebut bersamaan dengan melemahnya Euro yang didorong oleh krisisPIIGS. Krisis yang sempat membuat para pelaku dunia usaha dan investor was-was dalam beberapa bulan tersebut mendorong permintaan emas sebagai tempat berlabuh yang aman bagi dana usaha dan investasi mereka.

Tiga bulan terakhir ancaman krisis PIIGS mereda dan US$ mulai kelihatan jati dirinya yang asli – yaitu cenderung melemah. Dengan issue Quantitative Easing 2 (QE 2) yang terus menghantui masyarakat pelaku usaha dan investor dunia, nampaknya kecenderungan melemahnya Dollar ini masih akan berlanjut. Dalam grafik (biru) nampak jelas trend penurunannya dalam tiga bulan terakkhir dan belum ada tanda-tanda berbalik arah. Sebaliknya harga emas tiga bulan terakhir nampak sudah mulai berperilaku normal yaitu naik ketika daya beli Dollar menurun (grafik kuning).

Lantas bagaimana dengan Rupiah ?. Rupiah Index (IDRX) yang mencerminkan daya beli Rupiah – pada umumnya berperilaku mirip dengan US$ selama tiga tahun terakhir, harga emas dalam Rupiah naik ketika IDRX turun dan sebaliknya. Hanya saja naik turunnya IDRX ini tidak selalu bersamaan dengan naik turunnya USDX. Ketika krisis financial melanda AS akhir 2008 sampai awal 2009, supply uang US$ yang sempat menjadi langka membuat US$ Index melonjak tajam. Daya beli relatif Rupiah terhadap US$ turun yang ditunjukan oleh IDRX yang rendah pada periode waktu tersebut. Pada periode inilah harga Dinar sempat melewati angka Rp 1,600,000/Dinar – bukan karena harga emas dunia lagi setinggi sekarang (saat itu harga emas dunia ‘hanya’ di kisaran US$ 940/Oz), tetapi Rupiahnya-lah yang lagi anjlog – bahkan sempat menyentuh angka Rp 12,000/US$.

Hari-hari ini Rupiah terhadap US$ kelihatan perkasa yaitu dibawah angka Rp 9,000/US$; sayangnya keperkasaan ini hanya terjadi bila dibandingkan dengan US$ saja. Bila dibandingkan dengan sekelompok mata uang kuat dunia lainnya yang tercermin dari IDRX – maka sesungguhnya Rupiah-pun saat ini sedang dalam trend melemah seperti US$. Lihat ujung kanan grafik merah yang sejalan dengan grafik biru.

Dengan signal yang begitu kuat yang tercermin dari grafik merah dan biru yang menurun sedangkan grafik emas naik ini, maka nampaknya harga emas masih akan terus naik. Peluang turunnya tetap akan ada, yaitu bila ada noise – berupa isu-isu sesaat yang bisa mengacaukansignal. Setelah noise ini menghilang, kembali signal yang jelas-lah yang akan dominant.

Jadi saat ini harga emas atau Dinar memang lagi tinggi, tetapi berdasarkan grafik diatas kita bisa melihat signal-nya dengan jelas bahwa harga sekarang belum ketinggian. Wa Allahu A’lam.

Sabtu, 25 September 2010

Dinar Setelah 3 Tahun : Apa Yang Terjadi...?

Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 24 September 2010 09:07

Bulan September ini genap tiga tahun sejak system kami mencatat secara rutin perkembangan harga Dinar dari hari ke hari. Dalam perkembangannya bahkan harga Dinar ini berhasil kami otomatisasikan berdasarkan perkembangan harga emas Dunia, dan ter-update setiap 6 jam dalam angka dan setiap 10 menit dalam grafik – seperti yang dapat Anda ikuti diwww.geraidinar.com sampai sekarang.

Grafik dibawah menggambarkan perkembangan harga tersebut dalam rata-rata bulanan. Di awal kami mencatat harga tersebut, rata-rata bulan September 2007 – harga Dinar berada pada angka Rp 915,080/Dinar sedangkan rata-rata bulan ini harga tersebut berada pada angka Rp 1,567,420/Dinar – naik sebesar 71.29 % dalam waktu tiga tahun.

Perkembangan Harga Dinar 2007-2010

Perkembangan Harga Dinar 2007-2010

Apa maknanya apresiasi nilai Dinar ini bagi uang Anda ?, untuk mudahnya saya berikan gambaran pembanding dengan Deposito standar dengan hasil rata-rata 6 % per tahun misalnya. Bila pada September 2007, Anda memiliki uang Rp 2,000,000 ; yang Rp 1,000,000 Anda taruh di Deposito sedangkan yang sisanya Rp 1,000,000,- Anda taruh di Dinar. Maka nilai uang Anda yang di Deposito kini menjadi Rp 1,196,680,- sedangkan yang di Dinar menjadi Rp 1,712,879,- atau 43% lebih tinggi ketimbang yang di Deposito standar. Untuk lebih mudahnya memahami perbandingan ini, perhatikan grafik dibawah.

Dinar Sebagai 'investasi' vs. Deposito

Dinar Sebagai 'investasi' vs. Deposito

Selain sebagai fungsi investasi – yaitu bila Dinar dilihat dari kaca mata Rupiah nampak memberikan hasil yang jauh lebih tinggi dari investasi dalam bentuk deposito – Dinar juga terbukti berfungsi efektif dalam melindungi nilai asset Anda dalam tiga tahun ini. Uang di Deposto Anda yang seolah tumbuh 19.67% dalam tiga tahun tersebut diatas, ternyata bila diukur dengan timbangan Dinar – bukannya tumbuh malah turun atau menyusut sekitar 25% dalam tiga tahun terakhir. Perhatikan grafik dibawah untuk penjelasan hal ini.

Dinar Sebagai Proteksi Nilai vs. Deposito

Dinar Sebagai Proteksi Nilai vs. Deposito

Setelah fungsi investasi dan proteksi nilai ini terbukti efektif, kini tantangan berikutnya memang menggunakan Dinar sebagai alat transaksi atau medium of exchange. Untuk transaksi modal atau transaksi komersial, pinjam-meminjam dlsb. hal inipun sudah berjalan efektif – tinggal menggunakannya untuk transaksi konsumsi – ini yang merupakan challenge tersendiri.

Dengan adanya gagasan pendirian Pasar Madinah yang saya perkenalkan lewat beberapa tulisan sebelumnya, insyaAllah akan dapat ikut menyempurnakan penggunaan Dinar dalam arti yang sesungguhnya yaitu sebagai Unit of Account, sebagai Store of Value dan tentu saja sebagai Medium of Exchange. InsyaAllah.


Senin, 20 September 2010

Harga Emas : Bila Burung-Burung Canary Mulai Mati ...

Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 17 September 2010 07:33

Burung kecil canary (Serinus canaria domestica) yang hidup di sekitar tambang batu bara – biasanya akan mati terlebih dahulu bila ditambang tersebut muncul carbon monoksida, gas methane atau gas beracun lainnya yang melebihi ambang batas aman. Para pekerja tambang harus segera meninggalkan tambang ketika melihat butung canary ini pada mati. Burung canary menjadi semacam ‘early warning system’ bagi para pekerja tambang batu bara – sehingga muncullah kiasan dalam bahasa Inggris yang berbunyi “canary in the coal mine” yang artinya kurang lebih ya peringatan dini tersebut.

Peringatan dini inilah yang diingatkan oleh Alan Greenspan mantan Chariman of The Fed selama dua dasawarsa dalam seperempat abad terakhir. Kita tahu dalam hal uang fiat – uang yang tidak memiliki nilai intrinsik, nilainya tidak tergantung dengan benda fisiknya – masyarakat ekonomi dunia mengenal pemain utamanya adalah The Fed-nya Amerika. Nilai US$ yang ‘dikendalikan’ oleh The Fed ini berpengaruh langsung maupun tidak langsung ke seluruh perekonomian dunia karena US$ juga menjadi reserve currency di hampir seluruh negara di Dunia. Tokoh yang sangat menentukan dalam ‘pengendalian nilai US$’ ini di Amerika selama beberapa dasawarsa terakhir ya Alan Greenspan tersebut diatas – yang menjabat sebagaiChairman of The Fed selama 20 tahun sampai pensiun empat tahun silam (2006).

Ironinya adalah ‘guru’ uang fiat dunia tersebut ternyata selama ini juga tidak mempercayai nilai uang fiat itu sendiri. Dalam pernyataannya di depan Council on Foreign Relations yang dimuat di The New York Sun dua hari lalu misalnya, Greenspan mengeluarkan beberapa ‘pengakuan’ yang sayangnya tidak dia keluarkan selagi dia masih menjabat dahulu. Beberapa pengakuan yang mengejutkan para pengagung uang fiat tersebut antara lain adalah sbb :

“Fiat money has no place to go but gold,”

“If all currencies are moving up or down together, the question is: relative to what? Gold is the canary in the coal mine. It signals problems with respect to currency markets. Central banks should pay attention to it.”

Keyakinan Greenspan terhadap emas tersebut selama 20 tahun menjabat dia aktualisasikan dengan menjaga US$ agar tidak keluar jauh dari nilai emas. Di awal dia menjabat Agustus 1987 harga emas berada pada angka rata-rata bulanan US$ 461/Oz, ketika pensiun akhir Januari 2006 harga emas rata-rata bulan itu berada pada angka US$ 549/Oz. Di masa pengelolaaannya, harga emas dalam US$ ‘hanya’ mengalami kenaikan sebesar 19% dalam 20 tahun.

Bandingkan misalnya dengan penggantinya Ben Bernanke yang belum genap lima tahun menjabat, harga emas sudah tidak terkendali dalam US$, naik dari rata-rata bulanan US$ 461/Oz Januari 2006 ke rata-rata US$ 1,250/Oz bulan ini atau mengalami kenaikan sebesar 171% dalam tempo kurang dari lima tahun !. Tidak sepenuhnya salah Ben Bernanke memang, tetapi setidaknya ini juga cerminan ketidak peduliannya sebagai Chairman of The Fed terhadap harga emas – yang seharusnya menjadi instrumen peringatan dini bagi daya beli uang kertas.

Tidak seperti pendahulunya yaitu Greenspan yang relatif mampu mengendalikan daya beli US$ terhadap emas karena menjadikan harga emas sebagai peringatan dini bagi uang fiat yang dikendalikannya, “...gold is canary in the coal mine...”.

Karena ignorance-nya para pengendali uang fiat kini, “...burung-burung canary di tambang batu bara...” telah pada sekarat dan sebagian mati, berupa harga emas yang melonjak 171 % dalam US$ selama kurang dari lima tahun terakhir, atau dalam Rupiah melonjak 160% pada periode yang sama (harga emas Rp 140,000/gram Januari 2006; Rp 365,000/gram September 2010) , maka kini waktunya – ‘para pekerja tambang’ – seperti kita-kita ini untuk menyelamatkan diri.

Kalimat hikmah (perkataan yang baik/bijaksana) adalah senjatanya orang mukmin, dimanapun ia mendapatkannya maka dia lebih berhak untuk mengambilnya” (HR. Tirmidzi/Ibnu Majjah)

Harga Emas Dari September Ke September : Seasonal dan Systemic

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 15 September 2010 07:56

Ketika saya mulai tertarik mengkaji Dinar bulan September lima tahun lalu (2006), harga emas dunia saat itu masih berada di bawah US$ 600/Oz (September average US$ 598/Oz). Semalam harga emas dunia sempat ditransaksikan di angka US$ 1,275/Oz; dan average bulan ini (sampai tanggal 15) sudah mencapai US$ 1,250/Oz atau lebih dari dua kali lipat dari bulan yang sama lima tahun lewat. Ini menguatkan teori saya tentang peluruhan daya beli mata uang kertas yang memang rata-rata memiliki waktu paruh di kisaran 5 tahun saja !.

Memang teori ini perlu pembuktian secara ilmiah, namun biarlah para ilmuwan yang melakukannya. Sebagai pelaku ekonomi awam, saya sendiri cukup menggunakan pemahaman teori ini untuk menyelamatkan diri dari menjadi korban penurunan nilai mata uang kertas yang begitu terang benderang. Untuk pembuktian ilmiahnya sendiri, saya senang ada peserta Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin yang insyallah akan menyusun thesis Doktor-nya dengan subject peluruhan daya beli mata uang kertas ini.

Untuk bulan September sendiri, memang bulan ini adalah bulan yang khusus untuk harga emas dunia. Bahwa kenaikan harga emas yang terjadinya secara musiman atau seasonal di awali di bulan September, sudah pernah saya tulis sekitar satu setengah tahun lalu dengan judul Musim Membeli Emas/Dinar. Kenaikan yang bersifat musiman ini juga nampak di grafik dibawah, bila kumulatif kenaikan harga emas selama 5 tahun dari rata-rata tahunan hanya berada di angka 94% selama lima tahun ini; kenaikan kumulatif 5 tahun untuk rata-rata September mencapai 109%.

September Gold Price vs Annual

September Gold Price vs Annual

Tetapi kenaikan harga emas dari September ke September dan dari tahun ke tahun, tidak hanya bersifat seasonal – karena kalau hanya faktor seasonal – harga emas akan kembali rendah di bulan-bulan yang lain. Kenyataannya rendahnya di bulan-bulan lain sangat jarang menyamai rendahnya harga emas di bulan-bulan yang sama tahun sebelumnya. Dengan kata lain, ada kenaikan harga emas yang sifatnya terus menerus dan bersifat systemic dari tahun ke tahun.

Ada setidaknya 9 faktor systemic yang insyaAllah akan terus mendorong harga emas keatas yang saya ringkaskan dari karya Dr. Martin Murenbeeld – Chief Economist dari Dundee Wealth Economic sebagai berikut :

1. Global Fiscal and Monetary Reflation - yaitu Negara-negara di dunia yang masing-masing membanjiri ekonominya dengan hutang untuk sekedar tidak tenggelam dalam kebangkrutan.

2. Global Imbalances – dimana Dollar nampak perkasa hanya karena mata uang negara-negara lain melemah. Dollar sendiri sebenarnya terus melemah dengan neraca perdagangan yang terus deficit. Amerika sekurangnya akan menambah hutangnya sebesar US$ 10 Trilyun dalam dekade ini.

3. Excessive Global Foreign Exchange Reserves – cadangan devisa Negara-negara di dunia akan menggelembung secara exponential – tetapi tersimpan dalam nilai mata uang kertas yang nilainya terus menyusut – sementara cadangan emas negara-negara di dunia akan terus melanjutkan penurunannya yang sudah dimulai sejak tiga puluh tahun lalu (1980).

4. Central Bank Attitudes to Gold – bank-bank central dunia akan cenderung menambah cadangan emasnya dan hanya IMF yang menjual emasnya ( dan Indonesia yang menjual cadangan emasnya 24 % pada akhir 2006 lalu!). Bank sentral India misalnya membeli seluruh 200 ton emas yang dijual IMF akhir tahun lalu, sedangkan bank sentral China malah berhasil melipat gandakan cadangan emasnya dari 395 ton ke angka 1,054 ton dalam dekade terakhir.

5. Gold Is Not Bubble – harga emas adalah harga barang yang secara fisik tidak pernah kehilangan nilainya dalam sejarah peradaban manusia. Jadi tingginya harga emas bukan gelembung atau bubble – yang bisa meletus dan kehilangan nilainya.

6. Mine Supply Is Flat – Sumber-sumber emas dari galian tambang baru relatif tidak bisa mengejar pertumbuhan permintaan, selama 20 tahun terakhir galian baru ini hanya menambah supply sebesar 25 % atau rata-rata 1.25% saja per tahun.

7. Investment Demand – karena kekawatiran terhadap berbagai instrumen investasi lainnya, permintaan investasi pada emas akan terus meningkat secara global. Sejak awal 2009 permintaan emas dunia terus meningkat – bahkan pada kwartal kedua tahun ini permintaan tersebut dua kali lebih besar dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ini yang menjelaskan mengapa sepanjang tahun ini harga emas dunia tidak turun-turun.

8. Commodity Price Cycle – sejak tahun 1800 harga komodity dunia mengalami siklus naik turun yang periodenya masing-masing siklus bisa satu sampai beberapa dekade. Jadi bull cycle yang sekarang bisa saja masih akan terus berlangsung sampai beberapa tahun mendatang.

9. Geopolitical Environment – Secara historis harga emas selalu tinggi pada saat terjadi gejolak politik maupun finansial. Puncak harga emas dunia misalnya pernah terjadi di tahun 1980 ketika terjadi krisis penyanderaan warga AS di Iran yang nyaris memicu perang besar. Tahun- tahun mendatang masih banyak sumber konflik global yang bisa meledak kapan saja. Setelah meredanya krisis Iraq misalnya, masih ada krisis di Afganistan yang dipicu serangan tentara AS dan sekutunya ke negeri itu, krisis Palestina yang dipicu pendudukan tentara yahudi yang tidak berhak atas wilayah itu, keberanian Iran untuk terus menyiapkan program nuklirnya, demikian pula ancaman Korea Utara yang bisa nekat kapan saja.

Well, jadi meskipun bulan ini harga Dinar kemungkinan akan terus tinggi karena bahan bakunya yaitu emas dunia yang memang lagi tinggi; tidak ada yang bisa tahu apakah bulan-bulan kedepan atau tahun-tahun mendatang harga Dinar bisa turun lagi ?. Sesaat saya yakin bisa saja turun, tetapi dalam jangka panjang kecenderungan naik oleh 9 faktor tersebut diatas-lah yang akan lebih dominan. Kebutuhan kita akan proteksi nilai justru akan terus meningkat di waktu-waktu yang akan datang. Wa Allahu A’lam.