| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Selasa, 27 July 2010 08:05 |
| Pertanyaan yang terus sampai ke saya , khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah “...kapan membeli Dinar yang paling tepat ?”. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah “...apakah harga akan turun lagi ?” , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah “...apakah harga akan terus naik ?” dan seterusnya.
Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A’lam – dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esuk hari. Yang paling banter adalah kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya.
Dari sekian banyak teknik ‘duga-menduga’ tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana – di standar grafik Excel ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar.
Perhatikan dua grafik dibawah contohnya yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data dua tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung kebawah yang dapat diartikan bahwa untuk dua tahun terakhir cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung keatas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant. Trend harga Emas 2 Tahun
Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung keatas secara tajam. Artinya dalam sepuluh tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant. Trend Harga Emas 10 Tahun
Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita ?. Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha dlsb. insyallah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja.
Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam setahun dua tahun ini misalnya – maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli – meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda.
Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini – kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar – maka untuk dana jangka pendek ini tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis.
Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. Dua grafik diatas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif.
Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di – “cetak” dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan dua tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik dibawah. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang ?.
US$ Money Supply
Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A’lam. |
Rabu, 28 Juli 2010
Trend Harga Emas : Sejauh Mana Mata Memandang...
Jumat, 23 Juli 2010
Kembalinya Emas Secara Diam-Diam Kedalam System Keuangan Global...
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Senin, 12 July 2010 06:00 |
| Meskipun secara formal system keuangan global yang dikomandoi IMF masih melarang penggunaan emas dalam salah satu Article of Agreement-nya yang mengikat pada seluruh anggota IMF, namun rupanya secara diam-diam emas telah kembali masuk kedalam system keuangan global yang dikelola oleh IMF sendiri. Tepatnya melalui jalur Bank for International Settlement (BIS), yaitu ‘bank’-nya bank-bank sentral dunia yang bermarkas di Basel – Switzerland.
Adalah laporan BIS tutup tahun buku 31/03/2010 yang di publikasikan akhir bulan lalu (28/06/2010) yang pertama kalinya mengungkap masalah tersebut. Meskipun ngumpet dalam catatan keterangan laporan keuangannya seperti yang saya copy-kan dari laporan tahunan BIS 2010 dibawah (laporan detailnya dapat Anda download sendiri dari situs resmi BIS dengan klik disini) , realita ini mengundang berbagai pertanyaan besar dan spekulasi serius tentang masa depan system keuangan global. Gold Swap in BIS Dibagian yang saya beri tanda diatas, disitu dijelaskan bahwa the Bank (maksudnya BIS) memegang 346 ton emas tahun buku terakhir ini (yang tahun sebelumnya masih Nol !) terkait dengan operasi Gold Swap – dimana bank menukar currencies dengan emas fisik. Pertanyaan besarnya adalah emas siapa ini ?. Harian ekonomi terkemuka the Wall Street Journal misalnya memberitahu analis Kitco – bahwa Gold Swap tersebut dilakukan antara BIS dengan bank swasta.
Justru tambah mencurigakan karena dari data yang dimiliki Kitco (pemain emas yang database-nya paling menjadi referensi dunia) tidak ada satu bank swasta-pun di dunia yang didalam kekayaannya memiliki asset emas secara fisik senilai 346 Ton tersebut (dengan harga emas sekarang kurang lebih senilai US$ 13.5 Milyar !). Jumlah ini juga setara kurang lebih 4.7 kali cadangan emas yang dimiliki bank sentral Indonesia.
Walhasil besar kemungkinan bahwa emas tersebut adalah milik suatu negara atau beberapa negara yang mengalami kesulitan keuangan serius sepanjang tahun buku 2009/2010. Kita tahu yang mengalami kesulitan keuangan pada periode tersebut dengan berbagai tingkatannya antara lain adalah Yunani, Portugal, Irlandia, Spanyol, Italy, Inggris dan bahkan Amerika – maka boleh jadi emas di kantong BIS tersebut berasal dari salah satu atau beberapa negara tersebut.
Lantas mengapa yang di swap bukan antar beberapa currency seperti pada umumnya, tetapi kali ini suatu currency dengan emas ?. Disinilah proses kembalinya emas dalam system keuangan global itu mulai; ketika satu atau beberapa currency – alat tukar sesaat – dari suatu negara atau beberapa negara tidak lagi bisa dipercayai – maka apa yang bisa disetor oleh negara tersebut untuk ditukar dengan currency negara lain yang masih bisa dipercayai ?, emas-lah jawabannya yang paling mudah , paling praktis dan paling bisa dipercaya.
Karena hal ini sudah terjadi pada tingkat BIS secara diam-diam; maka besar kemungkinan ini akan juga bisa terjadi pada system keuangan ditingkat bawahnya (dalam suatu negara) dan seterusnya.
Lantas mengapa pula hal-hal tersebut seolah dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi di jaman yang serba transparan ini ?. Bisa dibayangkan memang betapa dasyat-nya dampak dari tidak dipercayai-nya currency suatu negara – bagi ekonomi negara tersebut – bila hal ini dilakukan secara terang-terangan. Mata uang negara-negara tersebut bisa langsung jatuh seperti yang kita alami tahun 1997/1998 atau bahkan lebih buruk lagi.
Jadi memang tidak terlalu penting bagi kita untuk tahu siapa yang mata uangnya tidak lagi dipercayai oleh BIS tersebut diatas - sehingga harus menyetorkan emasnya untuk ditukar currency lain yang dibutuhkan, namun yang jelas kini kita telah mendapatkan lagi satu tambahan bukti – bahwa mata uang yang sesungguhnya, yang paling bisa dipercayai ketika yang lain tidak bisa dipercayai adalah mata uang yang berupa emas ini. Wa Allahu A’lam. |
Kamis, 22 Juli 2010
Fluktuasi Harga Emas : Lain Dollar Lain Rupiah...
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Selasa, 13 July 2010 08:53 |
| Ketika diawal tahun 80-an Presiden Amerika Ronald Reagan berhasil menurunkan inflasi di negaranya tinggal kurang dari ¼-nya dalam tiga tahun awal pemerintahannya (dari 13.56% ke 3.22 % !), harga emas dunia dalam US$ serta merta mengikuti trend menurun dari angka US$ 615/Oz ke titik terendah US$ 271/Oz dua puluh tahun kemudian (2001). Dan sejak diturunkan oleh Reagan tersebutlah rezim inflasi Rendah di Amerika relatif bisa dipertahankan atau setidaknya tidak kembali ke double digit seperti pada pemerintahan sebelum Reagan hingga sekarang.
Apakah ketika harga emas dunia turun selama bertahun-tahun tersebut harga emas dalam Rupiah ikut turun ?, ternyata tidak. Ketika harga emas dunia bearish (menurun) selama dua puluh tahun; harga emas di Indonesia hanya turun dua tahun saja yaitu dari kisaran Rp 11,500/Gram (1980), turun ke angka Rp 7,000/Gram (1982) dan kembali naik melebihi angka tertinggi sebelumnya Rp 12,000/Gram (1983) terus sampai puncaknya 15 tahun kemudian pada krisis moneter 1998 ketika emas berada pada kisaran angka Rp 149,000/Gr.
Pasca krisis moneter memang emas sempat turun lagi selama dua tahun sampai titik terendah Rp 58,000/Gram tahun 2000, tetapi setelah itu dari tahun ketahun harga emas naik sampai ke angka sekarang di kisaran harga Rp 350,000/Gram.
Poin yang ingin saya sampaikan adalah, karena uang yang kita pakai sehari-hari Rupiah sedangkan harga emas dunia dalam US$; tidak serta merta apabila harga emas dunia mengalami penurunan – kita yang di Indonesia dengan uang Rupiah kita bisa ikut menikmati penurunan tersebut.
Sebaliknya juga demikian, ketika US$ babak belur sehingga harga emas dunia naik sampai sekitar 30% selama setahun terakhir – tidak serta merta pula harga emas kita dalam Rupiah mengikuti kenaikan tersebut. Rupiah yang lagi perkasa mampu menahan kenaikan harga emas setahun terakhir sehingga hanya mengalami kenaikan kurang lebih separuh dari kenaikan harga internasionalnya.
Perilaku harga emas dalam Rupiah yang berbeda dengan harga emas dalam US$ ini dapat lebih jelas bila dilihat dalam grafik-grafik seperti dibawah. Untuk 40 tahun terakhir, perhatikan di awal tahun 80-an sampai 2000 – dimana Rupiah tidak mengikuti trend penurunan harga emas dunia – bahkan mengalami kenaikan yang sangat significant di tahun 1998. Trend Harga Emas 40 Tahun
Untuk grafik 10 tahun terakhir – perhatika periode akhir 2008- awal 2009 ketika Rupiah sempat anjlok ke kisaran Rp 12,000-an/US$. Pada saat itu harga emas dunia turun tetapi dalam Rupiah malah melonjak naik. Trend Harga Emas 10 Tahun
Untuk grafik 1 tahun terakhir dimana Rupiah perkasa, perhatikan grafik Rupiah yang lebih landai karena mampu menahan kenaikan harga emas dalam Rupiah sekitar separuh dari kenaikannya dalam US$. Trend Harga Emas 1 Tahun
Jadi bila pendapatan kita masih dalam Rupiah, kita tidak bisa hanya mengandalkan analisa emas Global untuk memahami trend harga emas kedepan. Kita kudu paham juga tentang situasi ekonomi politik dalam negeri khususnya terkait angka-angka inflasi. Wa Allahu A’lam. |
Rabu, 30 Juni 2010
United Nation Report : Tinggalkan Dollar...
| leh Muhaimin Iqbal |
| Rabu, 30 June 2010 07:04 |
Ketika sepuluh bulan lalu saya menulis Tinggalkan Dollar Selagi Sempat...!, banyak yang mengkritik tulisan tersebut sebagai provokatif, tidak realistik, sentimen pribadi, apriori terhadap barat dan lain sebagainya. Nah sekarang terbukti sepuluh bulan kemudian United Nation(PBB) – badan yang paling dihormati pemerintah-pemerintah dunia – seperti menguatkan seruan tersebut dalam laporannya paling gres yang dikeluarkan kemarin, siapa yang tidak realistik sekarang ?. Seperti dikutip kantor berita Reuters yang kemudian menyebar ke seluruh dunia lewat berbagai media, laporan terbaru PBB yang di released Selasa kemarin menyerukan ditinggalkannya US Dollar sebagai mata uang cadangan utama dunia (main reserve currecy). Alasan utamanya adalah sudah terbukti bahwa US$ tidak dapat menjaga nilainya. Disebutkan pula di laporan ini bahwa negara-negara berkembang paling dirugikan dengan penurunan nilai terus menerus dari US$ dalam beberapa tahun belakangan ini. “Termotivasi oleh keinginan memproteksi diri (self-insurance) dari gejolak pasar komoditi dan aliran modal, banyak negara berkembang menumpuk US$ sebagai cadangan selama dasawarsa 2000-an” kata laporan tersebut.
Laporan ini juga menyerukan disiapkannya sebuah system pencadangan baru (new reserve system) yang tidak tergantung pada satu atau bahkan beberapa mata uang; hanya saja laporan ini nampak tidak jelas lantas seperti apa pencadangan baru ini nantinya. Mereka hanya menyebutkan “seperti” Special Drawing Rights (SDR-nya IMF). Sebenarnya umat Islam sungguh beruntung memiliki dua pegangan yang dengan pegangan tersebut umat ini tidak akan pernah tersesat selamanya. Ditengah kebingungan dunia kini, bahkan PBB-pun bingung seperti apa reserve currency yang bisa membawa sabilitas system financial global; kita memiliki uswatun hasanah yang telah menuntun kita seperti apa uang kita seharusnya. Bila saja kita ikuti apa yang ada di hadits berikut contohnya, maka kita tidak akan tersesat dalam urusan mata uang ini. Dalam Hadis Nabi Riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”. Dalam Islam, alat tukar ini adalah benda riil yang memiliki nilai yang sesungguhnya – nilai intrinsik. Bentuknya bisa macam-macam tetapi semua memiliki nilai riil. Bisa dari golongan emas dan perak, bisa pula dari golongan kebutuhan pokok. Jadi bila reserve system kita mengandalkan benda riil yang disebutkan di hadits tersebut diatas atau yang sejenisnya – maka insyaallah kita tidak akan pernah bisa dirugikan oleh jatuhnya mata uang US$ seperti yang diungkapkan oleh laporan PBB tersebut diatas. Bahkan untuk mengantisipasi paceklik global dalam berbagai bentuknya, bisa karena krisis financial, fenomena alam, maupun karena perang – kita bisa membangun ketahanan ekonomi (yukhsinun) sendiri dengan mencontoh apa yang dilakukan Nabi Yusuf A.S. berikut : ...."Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”. (QS 12:47). Mari sekarang kita ‘bertanam’ sungguh-sungguh sampai minimal 7 tahun kedepan, maka ketika dunia dilanda ‘paceklik global’ kita tidak hanya bisa menyelamatkan diri – tetapi juga bisa menyantuni rakyat negara lain seperti kisah Nabi Yusuf yang di Al-Qur’an digambarkan sebagai kisah yang paling indah Akhsana Al Qoshoshi.
Semoga Allah mumudahkan jalan-Nya bagi kita untuk beramal yang di ridhloi-Nya. Amin.
|
Jumat, 25 Juni 2010
Harga Emas Dunia Di Rekor Tertinggi, So What...?
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Senin, 21 June 2010 07:41 |
| Sudah beberapa pekan ini harga emas dunia berada di atas rekor-nya akhir tahun lalu di angka US$ 1,226/Oz; bahkan dalm perdagangan Jum’at lalu sempat diperdagangkan ditas US$ 1,260/Oz. Sampai pagi ini-pun ketika pasar Sidney mulai buka harga emas masih berada di sekitar angka rekor tertinggi tersebut. Tidak ada yang mengejutkan dengan pencapaian rekor ini karena beberapa jam sebelum pasar London dibuka dan kemudian juga pasar New York Jum'at lalu, di situs ini juga sudah kita sajikan prediksi para pakar per-emasan dunia yang memang keseluruhannya memprediksi naik. Perbedannya hanya pada sampai berapa kenaikan ini terjadi, kapan terjadinya dan apa alasannya. Ada hal yang tersirat dari pendapat para pakar tersebut tentang kenaikan harga emas yang mereka prediksi. Di masa-masa yang lalu ketika emas tinggi, biasanya dibarengi dengan US$ yang lemah. Contohnya lihat di grafik pada area yang saya beri shadow merah, lihat misalnya pada saat rekor tertinggi Maret 2008 ketika harga emas mencapai angka US$ 968/Oz – saat itu US$ Index mencapai angka terendahnya dibawah 72. Gold vs US$ Index Sebaliknya lihat di area yang saya beri shadow kuning, harga emas tertinggi kali ini tidak terjadi pada saat US$ Index berada di angka terendah. US$ Index malah sebenarnya pada angka yang cukup tinggi yaitu diatas angka 85. Apa maknanya ini sebenarnya ?. Walaupun US$ lagi masih perkasa dibandingkan dengan berbagai mata uang lainnya di dunia, dibandingkan emas daya belinya mencapai titik terendah. Artinya keperkasaan mata uang kertas ini ( tidak hanya US$ tetapi juga seluruh mata uang kertas lainnya) adalah semu. Itulah sebabnya mengapa para ahli emas yang saya kutip pendapatnya tersebut, tidak ada satupun yang menggunakan faktor penguatan US$ akan mampu mengerem laju kenaikan harga emas dunia. Bagaimana dengan Rupiah ?, sampai saat ini Rupiah masih jauh lebih perkasa ketimbang US$ sekalipun. Bila harga emas dalam US$ per pagi ini (21/06) mengalami kenaikan sampai 34.8 % selama setahun terakhir, harga emas dalam Rupiah hanya mengalami kenaikan sebesar 16.81 % !. Karena keperkasaannya inilah maka harga emas dalam Rupiah belum memcahkan rekor tertingginya Februari tahun lalu diatas Rp 374,000/gram. Mampukan Rupiah akan terus bertahan sebegitu perkasanya mengalahkan US$ ?; inilah masalahnya yang perlu diantisipasi. Pejabat Gubernur Bank Indonesia sendiri telah mengungkapkan kemungkinan melemahnya Rupiah tahun depan yang tinggal kurang lebih enam bulan lagi. Jadi mungkin kita tidak bisa berlama-lama menikmati keperkasaan Rupiah ini. Selagi dia perkasa – ini adalah waktu yang baik untuk meng-konversi-kan uang Anda menjadi asset yang lebih tahan terhadap penurunan daya beli mata uang, seperti investasi sektor riil, menukarnya menjadi Dinar dlsb. Wa Allahu A’lam. |
Prediksi Harga Emas Oleh Para Ahli-nya...
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Kamis, 17 June 2010 09:14 |
| Bagi yang mengira bahwa harga emas dunia dikisaran US$ 1,230/oz atau di Indonesia pada kisaran Rp 367,000/gr hari-hari ini sudah ketinggian sehingga berniat menjual emas/Dinarnya atau menunda investasinya, tulisan saya kali ini barangkali bermanfaat untuk melengkapi pertimbangan Anda. Kali ini bukan pendapat saya yang dominan, tetapi saya ambilkan dari 10 ahli per-emas-an dunia yang sangat kompeten dibidangnya. Saya sarikan prediksi harga emas oleh para ahli ini, masing-masing lengkap dengan alasannya sebagai berikut : 1. Peter Schiff (President & Chief Global Strategist dari Euro Pacific Capital) Peter Schiff ini memprediksi harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz – US$ 10,000/oz dalam 5 sampai 10 tahun mendatang , dengan alasan bahwa masyarakat dunia akan semakin takut dengan penurunan nilai (debasement) mata uang kertasnya menyusul serangkaian krisis ekonomi, real estate, mortgage meltdown, credit crunch, subprime debacle dan entah apa lagi nama krisis-krisis berikutnya. 2. David Rosenberg (Mantan Merril Lynch Economist, Sekarang Chief Economist & Strategist di Gluskin Scheff) David memberikan estimasi yang menurutnya sendiri masih konservatif di angka US$ 3,000/oz dalam waktu dekat. Alasannya adalah : bila didasarkan pada rasio harga emas dan GDP tiga decade kebelakang, harga emas seharusnya berada pada US$ 5,300/oz. Bila disetarakan dengan CPI (Consumers Price Index) , maka harga emas seharusnya sudah berada pada kisaran US$ 2,300/oz. Bila rasio yang digunakan adalah rasio harga emas dengan jumlah uang M1, maka harga emas harusnya sudah berada pada angka US$ 3,100/oz. 3. Alf Field ( Tekenal di dunia sebagai World’s Best Gold Analyst) Alf memprediksi harga emas akan berada pada rentang US 5,000/Oz – US$ 10,000/Oz. Alasannya adalah bila mengikuti trend tahun 70-an ke 80-an dimana harga emas melonjak 24.3 x dalam 1 dekade, kenaikan emas decade ini akan mencapai US$ 6,221/Oz yang merupakan perkalian harga terendah decade ini US$ 256 x 24.3. Penyebab fundamental-nya adalah krisis sekarang yang dia sebutnya sebagai systemic meltdown, dan pemerintah dunia membanjiri ekonomi dengan uang kertas untuk mengatasi krisis-krisis tersebut yang justru berdampak pada hilangnya nilai uang kertas. 4. Forextraders.Com Situs foreign exchange ini memprediksi harga emas akan berada pada kisaran US$ 3,000/oz – US$ 4,000/oz dalam lima tahun mendatang. Alasannya orang semakin kawatir dengan kestabilan kuangan publik di AS, kekurang seriusan pemerintah menangani problem social security, kredibilitas dollar yang terus terpuruk dan kelemahan fundamental ekonomi dunia. 5. Harry Schultz (dari Newsletter berbayar : International Harry Schultz Letter) Harry memprediksi harga emas akan mencapai US$ 6,000/Oz tanpa memberi target waktu yang pasti. Alasannya adalah harga emas akan melonjak sangat tinggi bila terjadi hyperinflasi, sedangkan hyperinflasi adalah fenomena moneter yang bisa terjadi secara dadakan, kapan saja – berbeda dengan fenomena ekonomi pada umumnya yang terjadinya secara gradual. 6. Egon von Greyerz ( Managing Derector dari Matterhorn Asset Management – Swiss) Menurut Egon emas akan mencapai kisaran US$ 5,000/oz – US$ 10,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya : pertama bila real inflation seperti yang disajikan oleh Shadowstats.com digunakan untuk mengukur harga emas yang wajar, maka harga emas akan berkisar 6 kali dari harga sekarang. Kedua, realitas bahwa supply emas yang tidak akan pernah cukup untuk memenuhi demand terhadap emas yang tumbuh lebih cepat. 7. Peter Cooper ( Penulis buku “Dubai Sabbatical : The Road to US$ 5,000 Gold) Peter memperkirakan harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam waktu yang tidak terlalu lama. Alasannya adalah saat ini pemerintah –pemerintah di dunia memaksakan rezim suku bunga yang rendah untuk mengatasi krisis; pada saat suku bunga rendah – obligasi pemerintah menjadi menarik. Namun situasi ini tidak akan bertahan lama, obligasi akan segera jatuh dan orang perlu pelarian uangnya ketempat yang aman – tempat aman apalagi yang lebih aman dari obligasi pemerintah kalau bukan emas ?. Sedangkan supply emas selalu terbatas, maka bila ada lonjakan demand – yang pasti terjadi adalah lonjakan harga. 8. Rob McEwen (Chief Executive Officer – CEO dari US Gold Corp Inc.) Rob berpendapat bahwa harga emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam rentang waktu antara 2012 – 2014. Alasannya : hutang pemerintah yang terus tumbuh dan akan mencapai skala yang dia sebut sebagai horrific scale. Dari masalah hutang yang pelik tersebut , menurut Rob akhir tahun ini saja harga emas sudah bisa mencapai US$ 2,000/oz. 9. Peter Krauth (Expert kenamaan dibidang Metals and Mining Stocks). Peter memprediksi emas akan mencapai US$ 5,000/oz dalam beberapa tahun mendatang. Alasannya adalah : potensi inflasi yang semakin besar, lonjakan demand, Central Banks tidak lagi menjadi net sellers tetapi malah menjadi net buyers, dan krisis yang terus bermunculan seperti yang terjadi di PIIGS. 10. Arnold Bock ( Komentator pada situs emas paling terkenal di dunia Kitco.com) Menurut Arnold harga emas akan naik secara parabolic sampai mencapai US$ 10,000 pada tahun 1912. Dia memiliki enam alasan untuk prediksinya ini yaitu : a) kegagalan pemerintah-pemerintah membayar hutang; b) bangkrutnya raksasa-raksasa financial dunia; c) Inflasi dan devaluasi mata uang-mata uang dunia; d) manipulasi harga emas sehingga masih ‘ rendah’ sekarang ; e) keterbatasan supply emas dibandingkan dengan peningkatan demand-nya; f) kebutuhan untuk melabuhkan dana-dana di tempat yang aman atau safe haven. Lantas bagaimana menurut pendapat saya sendiri ?, sekali lagi saya tidak ahli dan tidak menguasai ilmu masa depan itu – hanya Allah yang Maha Tahu apa yang akan terjadi. Hanya saja seandainya mengikuti statistik 10 tahun terakhir di Indonesia, dimana harga emas awal 2000 adalah Rp 66,000 /gram dan sekarang di kisaran Rp 367,000 /gram atau naik menjadi 5.56 kalinya dalam 10 tahun; maka saya tidak akan kaget bila dalam sepuluh tahun mendatang harga emas di Indonesia bisa mencapai Rp 2,000,000/gram atau Dinar mencapai diatas Rp 8.5 per Dinar. Wa Allahu A’lam. |
Senin, 07 Juni 2010
Harga Emas : Mengapa Terjadi Anomali Musim… ?
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Selasa, 08 June 2010 05:53 |
| Ketika melihat harga emas dunia yang mencapai US$ 1,240/Oz pagi ini saya sendiri terkejut, mengapa ?. Karena dalam pola naik turunnya emas tahunan berdasarkan data lima tahun sebelumnya, harusnya bulan Juni dan bulan Juli adalah bulan dimana harga emas mencapai titik terendah – bersamaan dengan awal musim panas di belahan bumi utara. Kemudian saya lihat lebih detil di analisanya Kitco, dari mana kenaikan yang mencapai lebih dari + US$ 20/Oz semalam ?. Ternyata mayoritasnya didorong oleh permintaan yang tiba-tiba melonjak. Kalau saja US$ tidak menguat semalam, maka dorongan permintaan ini bahkan mampu mengangkat kenaikan harga emas sampai diatas + US$ 23/Oz. Masih penasaran, saya ingin lihat lebih jauh lagi setahun terakhir apa benar permintaan ini melonjak. Ternyata benar sekali, analisa grafis dari Kitco dibawah menguatkan hal ini. Bila saja US$ tidak menguat dengan perkasanya sepanjang setahun terakhir bersamaan dengan melemahnya mata uang lainnya seperti Euro, maka harga emas saat ini seharusnya sudah sekitar +US$ 100/Oz lebih tinggi dari harga sekarang – atau berada di kisaran US$ 1,340/Oz (lihat pada garis biru).
kitco Gold Index Itu adalah faktanya; nah sekarang yang perlu kita dalami adalah mengapa sampai ada trend yang meningkat demikian tajam dalam arus pembelian emas dunia ?. Hampir seluruh analisa yang saya baca sependapat bahwa peningkatan permintaan adalah karena investor dunia membutuhkan tempat berlabuh yang aman (safe haven) bagi dana investasinya – di tengah berbagai krisis yang melanda dunia dengan tidak henti-hentinya dalam 24 bulan terakhir. Lantas apakah trend – perasaan tidak nyaman dengan system keuangan dunia saat ini – akan terus berlanjut atau cenderung berkurang ?. Sangat tergantung bagaimana pemerintah - pemerintah dunia mengatasi problemnya masing-masing, terutama terhadap problem hutang dan defisit anggarannya. Bila kondisi ini kita kaitkan dengan laporan dari The Bank of International Settlements (BIS) yang saya sajikan dalam tulisan saya 03/05/2010 lalu, maka nampak jelas dari analisa mereka-pun bahwa problem hutang tersebut akan meningkat dengan tajam pada tahun-tahun mendatang – dan tidak ada trend yang menurun. Untuk kita yang di Indonesia, Bank Central (BI) kita bahkan juga mengindikasikan bahwa ada kecenderungan menurunnya daya beli Rupiah tahun depan. Dengan fakta-fakta tersebut diatas, nampaknya anomaly tingginya harga emas di musim yang seharusnya rendah ini – berkemungkinan untuk berlangsung dalam jangka panjang. Atau dengan kata lain, tingginya harga emas sekarang yang mencapai US$ 1,240/Oz – bisa jadi ini the new low !. Bila the new low –nya saja mencapai US$ 1,240/Oz, maka bisa dibayangkan berapa the new high-nya dalam beberapa bulan kedepan ?. Wa Allahu A’lam ; Hanya Allah Yang Maha Tahu. |