| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Selasa, 18 January 2011 06:59 |
Dalam tulisan saya akhir Desember 2011 lalu dengan judul Estimasi Konservatif Harga Emas/Dinar 2011, saya membuat prakiraan harga emas akan berada di kisaran US$ 1,500/oz sampai US$ 1,600/oz pada akhir 2011 nanti. Belakangan saya tahu bahwa kurang lebih pada waktu yang bersamaan ada lembaga keuangan global – Credit Suisse – yang membuat prakiraan harga emas akhir 2011 dekat sekali dengan prakiraan konservatif saya tersebut. Dalam laporannya akhir tahun lalu, Credit Suisse membuat forecast harga emas dunia akhir 2011 berada di angka US$ 1,580/oz dengan average sepanjang tahun 2011 ini di kisaran angka US$ 1,490/oz atau akan mengalami kenaikan sekitar 21 % dari average 2010 yang berada di angka US$ 1,225/oz.
Lebih jauh lagi Credit Suisse juga membuat forecast untuk rata-rata tahun depan 2012 yang menurut mereka akan berada di kisaran angka US$ 1,720/oz atau mengalami kenaikan sekitar 20% lagi dari posisi rata-rata tahun 2011 ini. Sebagai lembaga keuangan global yang sering menjadi rujukan, tentu mereka punya dasar yang kuat untuk estimasinya tersebut. Berikut adalah dasar-dasar dari forecast mereka :
· Kekawatiran dunia akan penurunan daya beli uang kertas (currency debasement) atau inflasi yang telah melambungkan harga emas dunia sepanjang 2010 tetap akan berlanjut di tahun 2011. Kondisi ini bahkan akan dianggap ‘normal’ dan berlanjut setidaknya sampai tahun berikutnya. · Bank-bank sentral dunia menjadi net buyer emas karena ditengah ketidak pastian ekonomi global, emas akan menjadi reserve asset yang memiliki kredibilitas paling kuat. · Satu-satunya institusi global yang menjual emas hanyalah IMF, namun rencana penjualan mereka sebesar 403.3 ton telah semuanya di realisir sampai akhir 2010 lalu. · Supply emas baru dari hasil tambang tidak banyak diharapkan bisa meningkat. Kondisi ini juga akan terus berlanjut paling tidak sampai beberapa tahun mendatang. · Permintaan emas untuk investasi swasta juga terus meningkat baik di belahan bumi barat maupun di timur khususnya India dan China.
Gold Forecast by Credit Suisse Walhasil dengan adanya lima faktor tersebut diataslah Credit Suisse beranggapan akan ada dorongan yang sangat kuat untuk naiknya harga emas dunia di tahun 2011 ini dan setidaknya berlanjut sampai tahun depan 2012.
Namun perlu diingat bahwa namanya juga forecast, meskipun yang membuat lembaga yang sangat competent sekalipun tetap saja bisa salah. Kemungkinan salah ini menjadi semakin besar manakala – ada kejadian yang berada diluar parameter dari dasar prakiraan tersebut. Wa Allahu A’lam. |
Kamis, 20 Januari 2011
Forecast Harga Emas Dunia 2011-2012 Oleh Credit Suisse...
6 Irreversible Trends : Harga Emas di Era Doomy Gloomy-nya US$...
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Senin, 10 January 2011 08:52 |
Bagi para pembaca yang sempat lemas dengan turunnya harga emas dan Dinar secara drastis sepanjang pekan lalu, tulisan ini barangkali bisa menjadi pengobatnya disamping tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Bijak berinvestasi : Memahami Time Horizon Harga Emas...”. Tulisan ini saya sarikan dari ceramahnya Nick Barisheff - CEO and president of Bullion Management Group Inc.- pada acara seminar Investment Outlook 2011 di Montreal – Canada Jum’at pekan lalu. Menurut Nick ini ada setidaknya enam trend yang akan mendorong harga emas ke atas tahun 2011 dan tahun-tahun berikutnya.
Trend-trend yang oleh Nick dkategorikan sebagai Irreversible – yang tidak berubah atau tidak berbalik arah – paling tidak sejauh mata dia memandang ini, adalah sebagai berikut :
1) Central Bank Buying
Pendorong harga emas tahun 2010 antara lain adalah membengkaknya belanja emas yang dilakukan oleh beberapa bank central besar seperti Rusia, China dan India. Cadangan emas Rusia di kwartal ke 3 tahun 2010 saja naik 7 % menjadi 756 ton. China mengimpor hampir 210 ton emas di bulan Desember 2010, sedangkan India pembelian emas oleh bank central-nya plus pembelian swasta di duga mencapai 750 ton sepanjang tahun lalu.
Trend ini akan terus ada di tahun 2011 dan bahkan tahun-tahun sesudahnya karena untuk membuat cadangan emas Rusia dan China mendekati rata-rata negeri barat saja, Rusia membutuhkan tambahan cadangan sekitar 1,000 ton sedangkan China masih membutuhkan tambahan sekitar 3,000 ton lagi. Demand emas akan terus tinggi , sementara supply relatif tidak banyak perubahan.
2) Movement Away From US$
Tahun 2009, China , Rusia dan Perancis diduga secara diam-diam telah mulai meninggalkan US$ untuk perdagangan minyaknya dengan negeri-negeri Arab. Tahun 2010 lalu, secara resmi Rusia dan China mengakui bahwa mereka tidak lagi menggunakan US$ untuk perdagangan bilateral antar kedua negara – tidak terbatas pada perdagangan minyak saja.
Ini memberikan sinyal kuat ke seluruh dunia bahwa untuk perdagangan antar negara, penggunaan US$ tidak lagi menjadi suatu keharusan. Bila International Demand terhadap US$ menurun – sementara US$ supply terus digenjot melalui Quantitative Easing – maka jelas harga barang-barang dalam US$ akan melonjak karena daya beli US$ yang turun.
3) China
Di China bukan hanya pemerintah melalui bank central-mya yang getol menaikkan cadangan emasnya. Rakyatnya-pun di dorong dan dipermudah oleh pemerintahnya untuk membeli emas. Dengan penduduk yang mencapai lebih dari 1.3 milyar jiwa dan dengan tingkat penghasilan yang terus meningkat, maka demand emas dari China akan terus mengkatrol harga emas ke atas.
4) The Aging Population in US
“Baby boomers” yaitu ledakan penduduk yang lahir di Amerika paska Perang Dunia II tahun 1946 s/d 1963 berangsur-angsur memasuki usia pensiun. Amerika sedang menghadapi meningkatnya jumlah penduduk yang pensiun ini. Sedangkan jumlah tenaga kerja paska baby boomers ini cenderung menciut jumlahnya.
Artinya adalah akan semakin banyak jumlah orang pensiun – yang memerlukan dukungan dana pemerintah untuk mendanainya – sementara kontributor terhadap pendapatannnya dari pajak perorangan akan cenderung menurun karena jumlah pekerja yang semakin sedikit. Untuk membiayai para pensiunan yang lebih banyak ini pemerintah tidak ada cara lain kecuali ‘mencetak uang dari awang-awang’. Unfunded liability pemerintah yang terus membengkak dibarengi dengan pencetakan uang secara besar-besaran – pasti berdampak pada penurunan daya beli US$ yang terus menerus.
Menurut catatan Nick Barisheff ini, lima mata uang terbesar dunia termasuk US$ telah kehilangan 70%-80 % daya belinya terhadap emas selama 10 tahun terakhir. Emas sejatinya bukan terus naik harganya, tetapi mata uang yang dipakai membelinya-lah yang terus menyusut daya belinya.
5) Outsourcing
Industri besar Amerika yang beberapa diantaranya sekarang masih menguasai dunia seperti komputer , notebook, handphone misalnya, mereka memilih memproduksi barangnya dengan cara meng-outsource-kan produksinya ke negara lain yang lebih murah cost of production-nya. Dampaknya negeri itu akan terus kehilangan banyak lapangan kerja.
Dampak berikutnya ketika orang tidak bekerja adalah mereka juga mengurangi konsumsi barang dan jasa. Jadi system outsourcing yang kini semakin popular di Amerika dan bukan hanya pada bidang manufacturing tetapi juga melanda bidang-bidang jasa sperti accounting services, administration, data entry, call centre dlsb. akan secara berlipat ganda berdampak pada GDP negeri itu.
Ketika GDP tidak lagi tumbuh atau bahkan turun, maka tumpukan hutang negeri itu akan semakin menggunung dan uangnya akan semakin berkurang daya belinya.
6) Peak Oil
Yang dimaksud dengan Peak Oil adalah tingkat produksi minyak yang telah mencapai puncaknya dan akan menurun setelah itu. Peak Oil ini sudah terjadi di beberapa sentra produksi minyak dunia seperti AS , Alaska dan North Sea. Sentra-sentra produksi lainnya akan segera mrenyusul.
Meksiko misalnya yang sekarang menjadi salah satu supplier terbesar minyak Amerika, beberapa tahun mendatang tidak akan lagi bisa mengekspor minyaknya. Sebaliknya mereka malah akan butuh impor minyak untuk menopang ekonominya sendiri. (Ini mirip Indonesia yang sudah lebih dahulu menjadi net importer untuk minyak, meskipun untuk energi secara keseluruhan - termasuk didalamnya gas dan panas bumi - Indonesia masih net eksporter).
Walhasil secara keseluruhan dari 6 trend hasil pengamatan dan analisa yang dilakukan oleh pelaku ekonomi barat sendiri seperti Nick Barisheff ini, kita bisa simpulkan bahwa masa depan Amerika dengan US$-nya sedang memasuki era doomy gloomy - era masa depan suram menyerupai kiamat – sepertinya there is no tomorrow for US$ !. Menjelang ajalnya US$ tetap ada dan tetap bisa untuk membeli barang dan jasa, tetapi apapun yang dibeli dengan US$ akan terus melonjak harganya – termasuk tentu saja emas. Wa Allahu A’lam.
|
Jumat, 10 Desember 2010
Kapan Harga Emas Menjadi Terlalu Tinggi Untuk Dibeli...?
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Selasa, 07 December 2010 07:47 |
| Sekitar dua bulan lalu ketika harga emas dunia mendekati US$ 1,300/Oz yang menurut sebagian orang sudah ketinggian, saat itu saya membuat tulisan dengan judul Harga Emas Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian. Pagi ini harga emas dunia sudah mencapai US$ 1,424/Oz atau naik sekitar US$ 125/Oz sejak tulisan tersebut saya buat, pertanyaanya adalah apakah kini harga emas tersebut sudah menjadi ketinggian ?. Jawaban saya tetap belum. Lantas bagaimana caranya mengetahui kapan harga emas dunia menjadi terlalu tinggi untuk dibeli ?.
Begini, emas adalah uang hakiki sepanjang zaman. Saat ini uang hakiki tersebut nilainya - secara keliru – ditakar dengan uang fiat yang bisa dengan begitu mudah dicetak atau diketik dari awang-awang. Tetapi bolehlah untuk sementara karena uang fiat yang saat ini digunakan untuk membeli apapun di dunia – termasuk untuk membeli emas – maka untuk keperluan menjawab pertanyaan tersebut diatas saya gunakan uang kertas juga untuk menakar harga emas.
Saya mencoba mencari formula yang lebih baru, namun sejak kejadian Nixon Shock 1971 rupanya tidak ada lagi yang mengembangkan teori hubungan antara uang kertas dengan emas. Maka saya gunakan teori pra 1971 untuk melihat hubungan ini, saya gunakan apa yang disebut persamaan Breton Woods yaitu The Value of Money = (Monetary Base : Official Gold Holdings ).
Monetary base adalah uang yang beredar plus reserve. Reserve adalah uang bank yang ada di bank sentral dan uang yang ada di brankas perbankan. Official Gold Holdings adalah cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral.
Nah sekarang kita akan menggunakan formula tersebut untuk menentukan pada tingkat berapa harga emas menjadi terlalu tinggi untuk dibeli dengan uang kertas. Untuk mengaplikasikan teori tersebut saya perlu data Monetary base US Dollars dan cadangan emas yang dimiliki Amerika. Untuk monetary base saya lebih bercaya data dari Shadow Government Statistic seperti pada grafik dibawah. Posisinya saat ini berada di kisaran US$ 2 trilyun.
Monetary Base US$ Untuk cadangan emas resmi pemerintah saya ambil dari datanya World Gold Council yang untuk AS saat ini menunjukkan angka 8,133.5 ton atau 261 juta Oz. Jadi untuk US$ , the value of Money-nya saat ini adalah = US$ 2 trilyun/261 juta Oz atau 7,663 US$/Oz. Artinya apa angka ini ?. Bila harga emas tersebut saat ini dapat melampaui angka US$ 7,663/Oz – baru harga emas dunia menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$.
Tetapi karena angka ini dinamis, pembilangnya (monetary base) cenderung bertambah sedangkan penyebutnya cenderung tetap (Official Gold Holdings) ; maka angka tersebut diatas akan cenderung naik terus dari waktu ke waktu. Perhatikan grafik dibawah yang dibuat oleh perusahaan asset management terkenal QB Assets management. Dalam sejarah dunia modern, hanya pernah sekali harga emas ini terlalu mahal untuk dibeli dengan uang US$ yaitu pada tahun 1980 (perhatikan grafik biru yang berada dibawah grafik kuning tahun 1980 ).
Shadow Gold Price by QBAM Dari grafik tersebut diatas kita juga bisa melihat, bahwa sejauh mata kita memandang – kita belum bisa melihat harga emas ini akan ketinggian untuk dibeli dengan US$. Saya kesulitan menyimpulkannya dalam bahasa Indonesia, tetapi ada bahasa jawa yang pas untuk ini yaitu tangeh lamun – untuk menggambarkan sesuatu yang amat sangat kecil peluangnya. Jadi tangeh lamun (sangat-sangat kecil peluangnya) harga emas menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$ kapan-pun.
Lantas bagaimana dengan harga emas dalam Rupiah ?, ya sami mawon – lha wong US$ dan Rupiah ini satu guru satu ilmu... Wa Allahu A’lam. |
Senin, 22 November 2010
Deret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Menduga Harga Emas 10 Tahun Mendatang...
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Kamis, 18 November 2010 05:42 |
| Tentang teori deret Fibonacci, saya pernah menulisnya hampir tiga tahun lalu untuk menggambarkan penurunan nilai mata uang kertas. Kemudian saya juga telah menulis tentang teori peluruhan eksponensial sekitar 8 bulan lalu untuk menguatkan hal yang sama. Kini saya akan menggunakan dua teori tersebut untuk menjawab salah satu pertanyaan pembaca setia situs ini, yaitu seperti apa kiranya harga emas sepuluh tahun dari sekarang.
Sebelum saya uraikan aplikasi dari teori-teori tersebut, perlu saya jelaskan bahwa tidak ada seorang ahli-pun di dunia yang bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang – demikian pula dengan saya. Yang saya lakukan hanyalah mengolah data statistik harga emas dan nilai tukar Rupiah, kemudian menggunakannya dengan asumsi – bahwa peristiwa-peristiwa yang akan datang – tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
Untuk menduga harga emas 10 tahun yang akan datang, saya gunakan statistik harga emas dalam US$/Oz dan dalam Rp/Gram selama 40 tahun terakhir 1970 – 2010 yang sudah saya muat dalam tulisan tanggal 1 November 2010 di situs ini.
Dari statistik tersebut diatas, kita tahu bahwa seama 40 tahun terakhir – harga emas dunia rata-rata 2010 (sampai Oktober) dalam US$/Oz telah mengalami kenaikan sebesar 33 kali dibandingkan harga emas rata-rata tahun 1970; atau dalam Rupiah selama periode yang sama harga emas telah mengalami kenaikan sebesar 749 kali. Dari data ini bila kita konversikan dengan bilangan Fibonacci (perkalian 1.618) dan waktu paruh US$ maupun Rupiah (yang berarti perkalian 2.0 untuk harga emas) ; maka selama 40 tahun terakhir dapat kita sarikan dalam tabel dibawah :
Deret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Menduga Harga Emas 10 Tahun Mendatang...
Cara membaca tabel diatas adalah sebagai berikut :
· Dalam kurun waktu 1970-2010; harga emas dalam US$ telah mengalami frekwensi Fibonacci sebanyak 7.05 dan dalam Rupiah sebanyak 13.5. · Rentang waktu (return period) dari satu titik Fibonacci ke titik berikutnya rata-rata selama 40 tahun terakhir dalam US$ adalah 5.67 tahun sedangkan dalam Rupiah 2.96 tahun. · Dalam kurun waktu 1970-2010; harga emas bila dibeli dengan mata uang kertas telah berlipat dua (daya beli uang US$ maupun Rupiah tinggal separuh) sebanyak 4.85 kali (US$) dan 9.40 kali (Rupiah) · Selama 40 tahun terakhir, waktu paruh rata-rata mata uang kertas adalah 8.25 tahun untuk US$ dan 4.26 tahun untuk Rupiah.
Dari rangkuman angka-angka statistik tersebut, dapat kita gunakan secara sederhana untuk menghitung berapa kira-kira harga emas sepuluh tahun yang akan datang baik dalam US$ maupun dalam Rupiah – dengan asumsi bahwa tidak terjadi pemburukan ekonomi dunia yang lebih parah dibandingkan dengan apa yang terjadi selama 40 tahun terakhir.
Deret Fibonacci dan Teori Peluruhan Untuk Estimasi Harga Emas 10 Tahun
Dengan menggunakan pendekatan deret Fibonacci Harga Emas rata-rata 10 tahun yang akan datang dapat dihitung dari harga emas rata-rata tahun ini x kelipatan Fibonacci (1.618) ^ (10 /return period Fibonacci). Hasilnya untuk US$ adalah US$ 2,789/Oz dan dalam Rupiah adalah Rp 1,822,985/gram.
Bila kita gunakan teori peluruhan, maka harga emas rata-rata 10 tahun yang akan datang adalah sama dengan harga emas rata-rata tahun ini x 2 ^ (10/waktu paruh). Hasilnya untuk US$ adalah US$ 2,768/Oz dan dalam Rupiah adalah Rp 1, 831,898/gram.
Untuk memberi gambaran seberapa tinggi harga-harga tersebut dapat dibandingkan dengan tabungan US$ maupun tabungan Rupiah sebagai berikut :
· Bila Anda menabung US$ 1,194 tahun ini (harga rata-rata emas dunia 2010 untuk 1 Oz), dengan hasil bersih rata-rata 1 % misalnya; maka 10 tahun yang akan datang uang Anda hanya menjadi US$ 1,319. Uang yang sama yang Anda rupakan emas menjadi antara US$ 2,768 – US$ 2,789 atau naik sekitar 2.2 kali dibandingkan dengan tabungan US$ Anda. · Bila Anda menabung Rp 359,000 (setara dengan harga 1 gram emas rata-rata tahun ini), maka bila tingkat hasil bersih rata-rata 6 % , setelah 10 tahun uang Anda akan menjadi Rp 749,000. Jumlah uang yang sama bila dirupakan emas akan bernilai antara Rp 1,822,985 - Rp 1,831,898 atau kurang lebih 2.6 kali dibandingkan yang ditabung dalam Rupiah.
Dari angka-angka diatas kita kemudian juga bisa menghitung pula bahwa harga Dinar saat itu (2020) insyaAllah akan berada di rentang rata-rata antara Rp 7,812,252/Dinar s/d Rp 7,850,445/Dinar.
Estimasi tersebut diatas adalah estimasi konservatif karena berasumsi bahwa tidak terjadi percepatan pemburukan ekonomi dunia dalam 10 tahun kedepan. Padahal kita tahu sejak beberapa tahun terakhir misalnya, daya beli US$ cenderung memburuk dengan cepat setelah berbagai langkah Quantitative Easing yang dilakukan oleh Federal Reserve-nya. Jadi lebih besar peluang harga emas dunia untuk lebih tinggi dari perhitungan-perhitungan tersebut diatas – ketimbang peluangnya untuk lebih rendah. Wa Allahu A’lam. |
Rabu, 10 November 2010
Menduga Masa Depan Harga Emas Dari Neraca Perdagangan...
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Kamis, 11 November 2010 06:33 |
| Ketika krisis moneter melanda negeri ini tahun 1997/1998, ekonomi kita seperti luluh lantak. Pemutusan hubungan kerja meraja lela, banyak perusahaan yang harus tutup dan bahkan sampai kini Anda masih bisa menyaksikan korbannya berupa kota hantu di daerah Sentul. Suatu komplek yang semula direncanakan menjadi komplek perumahan mewah, semasa krisis moneter ditinggalkan pengembang dan calon pembelinya dengan menyisakan puing-puing bekas penjarahan. Namun obat yang begitu pahit bagi bangsa ini tersebut, ternyata menyembuhkan suatu penyakit kronis yang disebut defisit dalam neraca perdagangan.
Neraca Perdagangan RI 1980 - 2010 (s/d Juli 2010) Dari grafik di atas kita tahu bahwa selama belasan tahun sebelum krisis, Indonesia selalu mengalami defisit dalam neraca perdagangannya. Hanya setelah krisis moneter melanda, tiba-tiba kita menjadi surplus hingga kini. Lho kok bisa ?. Apakah industri kita lebih efisien sehingga lebih mampu bersaing dengan pasar global ?, apakah kita ada inovasi teknologi baru ?, produk ekspor unggulan baru ?, pasar tujuan ekspor baru ?. Tidak juga demikian !.
Kita menjadi tiba-tiba mampu bersaing karena nilai uang kita menjadi sangat rendah bila dibandingkan dengan rata-rata nilai daya beli uang negara-negara lain. Bila gaji buruh, pegawai dan bahkan direksi tiba-tiba nilainya tinggal seperempatnya karena nilai mata uang kita yang jatuh (1998); demikian pula dengan ongkos kandungan local dari industri-industri kita – pastilah produk-produk ekspor kita menjadi sangat kompetitif dari sisi harga.
Dari pengalaman Indonesia men-terapi penyakit kronisnya tersebut; kita tahu bahwa secara efektif kita bisa sembuh dari penyakit kronis defisit neraca perdagangan melalui kejatuhan nilai mata uang Rupiah kita.
Nah apa hubungannya neraca perdagangan ini dengan harga emas dunia ?. Karena harga emas dunia saat ini dinilai dengan US$, maka kita bisa menduga nasib harga emas dunia tersebut dari apa yang kiranya akan terjadi dengan daya beli US$ itu sendiri. Sekarang perhatikan grafik dibawah yang menunjukkan neraca perdagangan Amerika selama 30 tahun terakhir.
Neraca Perdagangan AS 1980-2010 (s/d Agustus 2010) Mirip Indonesia sebelum krisis 1997/1998 ; Amerika ternyata juga telah menderita penyakit kronis defisit neraca perdagangan selama belasan tahun hingga kini. Penyakit kronis inilah yang dengan setengah mati diupayakan oleh Obama antara lain melalui kunjungannya ke India dan Indonesia kemarin ini.
Sebagai ‘salesman’ yang berhasil memukau publik negara-negara yang dikunjunginya, bisa saja kunjungan-kunjungan tersebut akan meningkatkan ekspor Amerika ke negara-negara yang telah dikunjunginya. Namun peningkatan ini akan sulit sekali menyembuhkan penyakit kronis yang sudah menahun.
Lantas apa solusi yang efektif yang harus ditempuh Amerika ?, karena presidennya pernah belajar di Indonesia selama 4 tahun semasa kecil – harusnya Amerika kali ini juga mau belajar dari pengalaman Indonesia mengatasai penyakit yang sama sebelum 1997/1998 – bahwa terapi yang paling efektif untuk seketika membalik posisi defisit menjadi surplus adalah melalui devaluasi besar-besaran atau kehancuran daya beli mata uangnya !.
Hal ini bisa dilakukan secara malu-malu dan memberi nama yang indah – Quantitative Easing – misalnya, atau secara terang-terangan seperti Indonesia tahun 1997/1998 yang disebut krisis moneter. Cara pertama bisa menyembuhkan tetapi perlu waktu yang lebih lama, cara kedua akan menyakitkan tetapi ini terapi yang terbukti sangat efektif – paling tidak pernah dibuktikan di Indonesia !.
Mana-pun yang dipilih Amerika, tidak ada insentif apapun bagi mereka untuk menaikkan daya beli atau nilai tukar mata uangnya. Bila nilai tukar mata uang mereka naik – mereka akan semakin tidak kompetitif – yang berarti akan semakin membesarkan defisit neraca perdagangannya. Defisit neraca perdagangan yang terus menerus akan membawa kebangkrutan negara karena mereka terus mengkonsumsi barang dan jasa dari luar lebih banyak daripada yang mereka bisa jual keluar.
Jadi secara perlahan-lahan ataupun secara drastis, siapapun presidennya - Amerika akan cenderung membawa nilai tukar mata uangnya ke arah turun. Barang-barang yang dibeli dengan mata uang US$ dalam jangka panjangnya akan terus naik, meskipun perjalanan jangka pendeknya bisa saja bergelombang.
Maka ini pula yang akan terjadi dengan harga emas dunia, bergelombang dalam jangka pendek – tetapi arah jangka panjangnya sangat jelas. Wa Allahu A’lam. |
Senin, 08 November 2010
Value Creation : Cukup Untuk Anda, Cukup Untuk Saya...
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Selasa, 09 November 2010 07:18 |
| Harga emas dunia semalam melambung melampaui level psikologis berikutnya yaitu angka US$ 1,400/Oz. Melambungnya harga emas ini tidak terlepas dari praktik ekonomi yang mendasarkan pada teori scarcity, yaitu anggapan bahwa benda-benda ekonomi tersedia terbatas untuk memenuhi keingingan atau kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Harga emas akan terus naik selama dia diperebutkan umat manusia untuk disimpan, tetapi tidak harus demikian bila umat manusia mau berbagi dan mau menciptakan nilai (value creation) secara bersama-sama.
Teori scarcity tersebut kemudian melahirkan zero-sum mindset yang mewabah pada para pelaku ekonomi modern – ya kita semua di jaman ini. Untuk memahami zero-sum mindset ini, perhatikan ilustrasi grafis dibawah. Value Creation Asumsikan dalam suatu unit aktivitas ekonomi yang hanya ada dua orang pemain yaitu A dan B. Dengan zero-sum mindset A dan B sama-sama beranggapan bahwa ukuran kue yang mereka perebutkan adalah 100 misalnya. Maka A berusaha memperoleh sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri karena kalau dia berhasil mencapai posisi P1 misalnya, maka dia mendapatkan porsi yang besar 75 dan menyisakan porsi yang kecil 25 bagi B.
B –pun tidak akan tinggal diam, dia akan berusaha maksimal merebut kue yang ada, kalau dia berhasil menggeser ke posisi P2 – maka dia yang mendapatkan 75 dan A hanya mendapatkan 25.
Habis-habisan memperebutkan kue yang terbatas – scarcity – inilah yang membuat para pemain usaha rela melakukan persaingan yang tidak sehat. Zero-sum mindset pula yang mengakibatkan manusia pada umumnya enggan berbagi dalam hal apa saja. Enggan berbagi ilmu misalnya karena beranggapan bahwa kalau orang lain pinter – dia akan mengambil rizkinya. Yang terakhir ini bahkan kemudian dilembagakan secara global menjadi yang namanya Intellectual Property Right (IPR).
Lantas mindset seperti apa seharusnya kita memandang benda-benda ekonomi yang menjadi kebutuhan tersebut agar lebih sesuai dengan syariat Islam yang kita anut ini ?.
Islam sangat menganjurkan berbagi dalam hal apa saja, baik yang sifatnya harta benda maupun ke-ilmuan. Berbagi harta tidak akan membuat kita miskin, berbagi ilmu tidak pula akan membuat orang lain bisa merebut rizki kita.
Islam mengajarkan bahwa sumber-sumber kebutuhan manusia disediakan secara cukup oleh Allah yang Maha Kaya (Al-Ghani) dan yang Maha Pembuat Kaya (Al-Mughni), rizki disediakan cukup untuk kita dan cukup pula untuk orang lain – yang kita perlu lakukan hanyalah mengikuti syariat-nya dalam segala hal, termasuk dalam mengelola segala kebutuhan kita baik yang bersifat harta benda maupun yang bersifat ke-ilmu-an.
Ambil contoh di grafik diatas misalnya. Bila A dan B tidak bersaing satu sama lain, mereka malah saling tolong menolong berbagi ilmu dan saling men-support ikhtiar pihak lain – maka secara bersama-sama mereka bisa membesarkan kue-nya ke garis biru atau bahkan garis biru muda.
Ketika mereka berhasil bersinergi membesarkan kue ini, maka keduanya tidak harus berbagi kue yang besarnya 100; A sendiri bisa memperoleh 100 dan B – pun bisa memperoleh 100. Inilah yang namanya rakhmat dari Allah, Al-Ghani dan Al-Mughni yang diturunkannya bila kita mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Rakhmat Allah yang turun bila kita tidak saling mengkhianati mitra usaha kita, tidak mencurangi orang lain yang mencari rizki-nya dibidang yang sama dengan kita.
Prinsip Al-Ghani dan Al-Mughni ini secara tidak langsung berusaha diraih oleh para pelaku ekonomi dan usaha modern di jaman ini dengan istilah value creation. Dalam usaha misalnya, value creation ini bisa dilakukan untuk tiga kepentingan sekaligus yaitu kepentingan pengusaha/investor, kepentingan karyawan dan kepentingan pelanggan.
Bila Anda sebagai pengusaha dapat memenuhi kebutuhan karyawannya secara cukup akan mampu membuat karyawan bersemangat dan berdedikasi. Mereka akan menghasilkan produk atau layanan yang berkwalitas sehingga menyenangkan para pelanggannya. Pelanggan yang senang akan membeli lagi dan lagi, dan bahkan ikut menyebar luaskan produk dan layanan Anda. Usaha Anda akan terus membesar dan kue yang Anda bagi ke karyawan juga terus membesar, inilah operasionalisasi hal jazaa ul ihsaani illal ihsan – tidak ada balasan dari suatu kebaikan selain dengan kebaikan pula - dalam berusaha.
Lantas apa hubungannya dengan harga emas yang terus membubung tinggi di awal tulisan ini ?. Bila emas diputar dan tidak ditimbun, emas-pun sesungguhnya tersedia cukup untuk semua orang – hanya sikap mental zero-sum mindset yang menjadikan emas barang langka dan melambungkan harganya. WaAllahu A’lam. |
Minggu, 07 November 2010
Ketika US$ Jatuh, Apa Yang Terjadi Dengan Rupiah dan Harga Emas...?
| Oleh Muhaimin Iqbal |
| Senin, 08 November 2010 08:17 |
| Akhir September lalu ketika harga emas dunia mendekati angka psikologis US$ 1,300/Oz saya menulis tentang “Harga Emas : Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian...”. Kini satu setengah bulan kemudian harga emas dunia terus melambung, jauh melewati angka psikologis US$ 1,300/Oz tersebut dan bisa jadi sedang menuju angka psikologis berikutnya. Mengapa seolah harga emas dunia ini begitu predictable ?, selain karena statistiknya begitu nyata, perilaku manusia-manusia yang mengendalikan daya beli US$ ini begitu mudah dibaca.
Jauh hari sebelum Quantitative Easing tahap 2 benar-benar diputuskan pekan lalu misalnya, pasar sudah menduganya – bahkan sampai ke angkanya yang hanya meleset sedikit (pasar menduga di kisaran US$ 500 Milyar, yang diputuskan US$ 600 Milyar ). Jadi gejala jatuhnya daya beli US$ ini sebenarnya adalah terang benderang seterang siang hari, apalagi apabila dilihat dari kaca mata Qur’ani yang memang sudah menjanjikan akan dimusnahkannya Riba (QS 2 : 176).
Lantas bila jatuhnya daya beli US$ begitu nyata, apakah kita bisa melihat jatuhnya daya beli Rupiah ?. Tidak semua orang mungkin bisa melihat bahwa daya beli Rupiah juga sedang jatuh. Ini adalah karena adanya bias alat ukur, yaitu bila Rupiah diukur dengan US$ - maka nilai tukar Rupiah yang saat ini (08/11/2010) berada di kisaran Rp 8,900/US$ - kelihatan Rupiah seolah lagi perkasa. Mobil yang lagi berjalan mundur akan kelihatan berjalan maju, bila dilihat dari mobil lain yang berjalan mundur lebih cepat.
Kita hanya bisa tahu bahwa daya beli Rupiah juga lagi jatuh ketika kita pakai Rupiah tersebut untuk membeli kebutuhan riil sehari-hari yang terus bertambah mahal. Lebih kentara lagi bila digunakan untuk membeli barang-barang yang memiliki nilai baku sepanjang zaman seperti emas atau Dinar. Grafik dibawah adalah ilustrasinya.
IDXR, USDX and GoldPrice Grafik US$ Index adalah bila US$ dibandingkan dengan sekelompok mata uang kuat dunia, begitu pula grafik Rupiah Index. Di latar belakang adalah trend kenaikan harga emas dunia pada periode yang sama, jelas sekali bukan ?. Grafik garis hijau (US$ Index) turun, grafik garis merah (Rupiah Index) juga turun – pada saat yang bersaman grafik bidang emas (harga emas dunia US$/Oz) terus naik.
Maka karena saya belum bisa melihat akan adanya titik balik dari trend-trend terkini tersebut diatas; saya tetap dengan pendapat saya satu setengah bulan yang lalu – bahwa meskipun harga emas atau Dinar kini sudah sangat tinggi – tetapi tetap juga belum ketinggian !. Bukan hanya karena kelangkaan dan peminat yang terus bertambah, tetapi juga karena didorong oleh nilai tukar uang yang digunakan untuk membelinya terus mengalami penurunan. Wa Allahu A’lam. |