Kamis, 06 Oktober 2011

Harga Emas : Belajar Dari Krisis Financial Global 2008…

Oleh Muhaimin Iqbal
Jum'at, 07 October 2011 06:41

Ketika krisis financial melanda dunia tahun 2008, harga emas di pasar sempat menyentuh angka US$ 1,011/Ozt (17/04/08) kemudian merosot lagi sekitar 30%-nya dalam rentang tujuh bulan kemudian - tinggal US$ 713/Ozt ( 24/10/08). Perlu waktu kurang lebih satu setengah tahun kemudian untuk harga emas mampu melebihi angka tertinggi sebelumnya, yaitu ketika harga emas menyentuh US$ 1016 /Ozt (16/09/09). Apakah pola semacam ini akan bisa berulang untuk harga emas tertinggi bulan lalu yang mencapai US$ 1,895/Ozt (05/09/11) ?.

Ada yang menyebabkan statistik sejarah berulang yaitu perilaku manusianya. Ketika di puncak krisis para pelaku pasar melihat langit seolah akan runtuh, anut grubyug mereka mencari penyelamatan aset-aset mereka pada aset riil yang dipandang aman dari krisis – salah satunya emas. Emas diburu dan dibeli orang pada harga berapa saja, maka saat itulah harga emas menjulang tinggi.

Perilaku para pengelola kebijakan ekonomi dunia juga demikian, mereka akan mengerahkan segala daya dan upaya untuk bisa memberi angin surga bagi pasar, bahwa krisis dapat ditangani, bahwa ekonomi akan segera pulih. Solusi-solusi jangka pendek-pun mereka tempuh demi untuk menghasilkan efek sentiment positif di pasar, tidak peduli bila solusi ini dalam jangka panjang akan membahayakan ekonomi itu sendiri – seperti diakui atau tidak solusi yang sering disebut Quantitative Easing atau mencetak uang dari awang-awang.

Terlepas dari efek jangka panjangnya yang menyimpan bom waktu inflasi atau bahkan hiper-inflasi, solusi jangka pendek tersebut biasanya efektif untuk meredam gejolak pasar. Untuk sementara pasar menjadi tenang dan kembali bergairah, saham dan produk-produk turunannya kembali diburu orang dan kembali anut grubyug investor dunia-pun rame-rame menjual emasnya – inilah yang membuat harga emas turun drastis untuk beberapa bulan setelah puncak tertingginya – yang identik dengan puncak krisis atau puncak kepanikan pasar.

Seperti penyakit yang hanya diobati gejalanya – tetapi bukan penyebabnya, maka krisis atau kepanikan serupa kemudian berulang dan mendorong harga emas kembali menjulang. Begitulah siklus semacam ini berulang dan relatif predictable karena perilaku kegilaan massa - madness of crowds - yang memang mudah ditebak.

Maka bila statistik perilaku pasar tersebut berulang untuk krisis yang baru lewat, harga emas sekarang yang sudah cukup rendah di pasar global masih sangat mungkin turun lagi. Bila rentang penurunun 2008 yang berulang – yang berada pada kisaran 30% tersebut diatas – bisa saja emas turun kembali ke angka US$ 1,300 –an dalam beberapa bulan ini - yaitu turun sekitar 30% dari angka tertinggi sbelumnya US$ 1,895/Ozt.

Bila ini terjadi, Anda tidak perlu panik – asal Anda tidak segera membutuhkan uang Anda – bertahanlah sampai akhir tahun depan (2012) atau awal tahun sesudahnya (2013) – karena saat itulah investasi emas Anda akan kembali menjualng nilainya. Itulah sebabnya melalui situs ini selalu tidak saya sarankan untuk menggunakan emas ini sebagai instrument spekulasi jangka pendek – Anda bisa rugi karenanya.

Meskipun statistik sejarah sangat mungkin berulang, tetapi ada juga faktor yang memungkinkan perulangan ini tidak identik dengan yang terjadi sebelumnya. Struktur pasar emas telah mengalami banyak perubahan dalam tiga tahun terakhir.

Bila tiga tahun lalu bank-bank sentral dunia plus IMF masih net sellers emas, kini bank-bank sentral menjadi net buyers dan IMF-pun sudah tidak menjual emasnya lagi. Ditambah lagi kesadaran penduduk dunia untuk mengamankan asset telah menyentuh masyarakt tingkat bawah sekalipun, China yang daya belinya terus meningkat di tengah penduduknya yang berjumlah 1. 3 milyar lebih – membuat demand emas di China sangat besar kini. Di Indonesia-pun orang sampai mengantri emas karena seolah-olah terbangun dari tidur dan sadar akan perlunya memproteksi hasil dari jerih payah kerjanya. Kini 70% demand emas datangnya dari negeri-negeri yang sedang berkembang seperti China, India, Indonesia dlsb. yang perilakunya berbeda dengan pemain pasar barat pada umumnya.

Dengan hal yang terakhir ini – yaitu struktur pasar yang berubah, ditambah kita yang ada di Indonesia membeli emas dengan Rupiah kita yang daya belinya juga terus berubah-ubah – maka bisa jadi siklus pasar yang saya uraikan diatas tidak sepenuhnya sama bagi kita. Wa Allahu A’lam.

Jumat, 09 September 2011

Mengapa Harga Emas (Akan Terus) Naik...?

Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 05 September 2011 06:46
Sudah lebih dari sebulan ini harga emas terus bergejolak, berfluktuasi sangat tinggi dengan range terendah di angka US$ 1,623/Ozt sampai sempat menyentuh angka US$ 1,900/Ozt minggu ketiga Agustus 2011 lalu. Saat artikel ini saya tulis harga emas dunia berada di kisaran US$ 1,885/Ozt – angka yang menurut saya sendiri sangat tinggi karena telah mengalami kenaikan lebih dari 51% selama 12 bulan terakhir. Posisi harga saat ini memang sedikit banyak dipengaruhi oleh sentimen sesaat – yaitu karena tingginya angka pengangguran di Amerika Serikat yang di release akhir pekan lalu, bila sentimen ini mereda ada kemungkinan harga emas dunia akan turun kembali dalam jangka pendek. Namun untuk jangka panjangnya – perkiraan saya harga emas memang akan terus terdorong naik, mengapa ?

Setidaknya ada 5 (lima) alasan fundamental yang akan mendorong harga emas jangka panjang (terus) naik, yaitu :

Keterbatasan supply : rata-rata pertumbuhan emas tahunan di seluruh dunia hanya berada di kisaran 2 % pertahun. Ini sudah merupakan total antara hasil tambang baru dan hasil emas recycles.

Pertumbuhan demand : dua bangsa ‘penggemar’ emas dunia karena emas menjadi bagian dari budaya mereka adalah China dan India, kedua bangsa ini mengalami pertumbuhan ekonomi terbaik dalam dasawarsa terakhir ditambah realita bahwa dua negara tersebut adalah juga dua negara dengan penduduk terbesar nomor 1 dan 2 dunia – jadi pertumbuhan kebutuhan emas mereka saja sudah akan sulit dipenuhi oleh pertumbuhan supply emas dunia. Padahal demand baru atas emas bukan hanya datang dari masyarakat China dan India yang semakin makmur , individual dan bahkan korporasi dari seluruh dunia tiba-tiba membutuhkan emas untuk safe haven mereka atas ketidak pastian ekonomi dunia akhir-akhir ini.

Pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia : Setelah kurang lebih dua dasawarsa bank-bank sentral dunia menjadi net sellers untuk supply emas, sekarang ini mereka menjadi net buyers – artinya lebih banyak yang membeli ketimbang yang menjual. Trend ini nampaknya akan terus berlanjut karena kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia (China) – yang bisa menjadi no 1 dalam beberapa tahun kedepan – merasa perlu terus menambah cadangan emasnya. Cadangan emas mereka yang saat ini berada pada angka 1,054 ton hanya setara kurang lebih 1.6% reserve-nya, bandingkan dengan cadangan emas Amerika yang mencapai 8,134 ton atau sekitar 74% dari reserve-nya. Bila China akan terus meningkatkan cadangan emasnya mencapai rata-rata dunia yang 11.6% saja, maka bank sentral China masih akan butuh tambahan sekitar 6,500 ton emas – suatu jumlah yang akan menyedot habis supply emas dunia dan melambungkan harga ke angka yang tidak terbayangkan !.

Daya beli US Dollar yang terus melemah : Ada ironi yang luar biasa di ekonomi kapitalis dunia saat ini, yaitu negeri dengan penduduk paling kaya dan jumlah cadangan emas terbesar di dunia – ternyata uangnya juga menjadi salah satu yang paling cepat menurun daya belinya di dunia. Penyebabnya antara lain adalah anggaran belanja mereka yang lebih besar dari pendapatannya , sama dengan kehidupan keluarga – yang kaya belum tentu cukup sebaliknya yang miskin bukan berarti tidak cukup !. Penyebab kedua adalah terkonsentrasinya kekayaan pada segelintir orang – membuat ketimpangan di negeri itu akan semakin jauh – yang berarti juga beban pemerintah akan semakin berat, hutang semakin besar dan US Dollar akan terus kehilangan daya belinya. Ketika US Dollar kehilangan daya beli, harga emas dunia yang sampai saat ini dinilai dalam US Dollar tentu saja akan naik.

Nilai tukar Rupiah : Kita yang di Indonesia membeli emas dengan Rupiah akan sangat terpengaruhi oleh nilai tukar Rupiah kita terhadap US Dollar. Rupiah memang menguat ketika US Dollar melemah, namun penguatan Rupiah tidak proporsional terhadap pelemahan US Dollar. Efek penguatan Rupiah pada umumnya lebih kecil dari efek pelemahan daya beli US Dollar, jadi resultante-nya adalah ketika harga emas melonjak karena US Dollar melemah – harga emas dalam Rupiah ikut melonjak.

Karena lima hal yang bersifat fundamental tersebut diatas tidak mudah berubah oleh sentimen sesaat, maka dampaknya akan lebih bersifat jangka panjang.

Jadi bila dalam jangka pendek ini harga emas akan turun oleh meredanya sentimen sesaat, bisa jadi ini kesempatan Anda untuk mulai mengamankan asset kertas Anda ke asset riil yang insyaAllah akan lebih mampu bertahan dalam memenuhi kebutuhan juangka panjang seperti sekolah anak, dana pensiun, biaya kesehatan hari tua dlsb. dlsb. Wa Allahu A’lam.

Rabu, 24 Agustus 2011

Di Ambang Keruntuhan Kapitalisme, Are We Ready…?

Oleh Muhaimin Iqbal
Selasa, 23 August 2011 06:35

Di bidang ekonomi, undang-undang korporasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Gorbachev di Uni Soviet bulan Mei 1988 menandai runtuhnya rezim ekonomi komunisme di negeri itu. Tahun berikutnya keruntuhan system ekonomi ini diikuti pula dengan runtuhnya system politik komunisme dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya yang ditandai dengan diruntuhkannya tembok Berlin pada bulan November 1989. Lantas apa kiranya tanda-tanda keruntuhan system kapitalisme ?, saya sendiri menjagokan keruntuhan Dollar sebagai perlambang runtuhnya kapitalisme itu. Dan kini seperti tahap akhir dari suatu permainan catur, Dollar tinggal memiliki dua langkah lagi sebelum terkena skak mat !.

Skenario kematian Dollar ini pernah saya sajikan link videonya di situs ini melalui tulisan saya The Day the Dollar Died, dalam film yang disiapkan dengan sangat serius oleh NGO National Inflation Association ini digambarkan bahwa Dollar akan mati manakala Quantitative Easing (QE) – bahasa lain untuk mencetak uang dari awang-awang – memasuki tahap QE 4.

Memang the Fed-nya Amerika sangat tidak suka disebut mereka telah melakukan QE 3 saat ini, tetapi tindakan mereka dengan menekan tingkat bunga yang sangat rendah sampai pertengahan tahun 2013 – membuat mereka harus membeli sangat banyak bond – lantas darimana uangnya ?, ya mencetak dari awang-awang tadi alias secara defacto mereka telah melakukan Quatitative Easing tahap 3.

Pasar tidak lagi percaya pidato atau statement, pasar meresponse tindakan dengan tindakan. Bila the Fed melakukan langkah-langkah yang berdampak pada menurunnya nilai Dollar, maka pasar bereaksi langsung dengan membeli asset-aset yang nilainya tidak lagi dipengaruhi oleh Dollar. Bentuk dari reaksi pasar ini antara lain adalah melonjaknya secara luar biasa harga emas sebulan terakhir – karena orang perlu sesuatu yang nilainya mampu bertahan .

Bahwasanya kapitalisme ribawi pasti hancur atau dihancurkan kita yakin karena sudah dikabarkan di Al-Qur’an (QS 2 : 276), masalah waktunya yang kita hanya bisa menduga atau memprediksinya – kita belum bisa tahu persis, tetapi tanda-tandanya nampak begitu dekat.

Megenai kapan waktunya Dollar akan mati ini memang tidak terlalu penting bagi kita, yang lebih penting adalah apakah kita siap menggantikannya bila kapitalisme ikut mati bersama matinya Dollar ini ?, Jangan sampai justru kita ikut menjadi korbannya karena selama ini begitu tergantung dengan system kapitalisme dengan Dollar-nya ini.

Nah agar kita bisa menghadirkan system penggantinya, berikut adalah dua langkah yang menurut saya patut kita persiapkan :

Pertama kita memiliki dua pegangan yang bila kita berpegang pada keduanya dijamin tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua pegangan ini tidak lain adalah Al-Qur’an dan Al- Hadits. Persiapan logis untuk hal ini adalah mendalami Al-Qur’an dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, mendalami pula hadits-hadits sahih sebagai rujukan atas berbagai hal urusan kehidupan tidak terkecuali urusan ekonomi ini.

Kedua harus dipahami bahwa kapitalisme tidak identik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Memang banyak sekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkan di era kapitalisme, tetapi tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bagian dari kapitalisme. Iptek adalah value neutral, bila mereka yang menggunakannya maka ia menjadi instrumen kapitalisme – bila kita yang menggunakannya maka ia bisa menjadi sarana untuk membangun system ekonomi yang mengikuti petunjukNya.

Teknologi web dan social media misalnya, sangat mungkin kita gunakan untuk mengaplikasikan system ekonomi yang memenuhi kriteria di ayat “ …agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang yang kaya saja diantara kamu…” (QS 59 :7). Dengan teknologi misalnya bisa saja pedagang busana kecil bersaing head to head dengan retailer fashion raksasa di dunia maya. Pengusaha perumahan yang hanya memiliki satu dua kluster rumah kecil – bisa saja bersaing langsung dengan perusahaan real estate besar yang tengah membangun kota mandiri, dlsb-dlsb.

Dengan teknologi, kesetaraan akses terhadap pasar dan sumber daya bisa dicapai, tinggal akses terhadap kapital saja yang perlu didandani. Ketika tembok yang terakhir ini – yaitu tembok yang membatasi akses terhadap kapital – berhasil di rubuhkan, akses terhadap kapital menjadi bukan lagi hanya milik golongan tertentu – maka lengkaplah sudah keruntuhan kapitalisme itu. InsyaAlah kita akan siap…!.

Kamis, 11 Agustus 2011

Alhamdulillah Ongkos Naik Haji Turun…!

Oleh Muhaimin Iqbal
Kamis, 11 August 2011 19:09

Saya gembira membaca running text di salah satu TV swasta sore tadi yang mengabarkan bahwa ONH rata-rata untuk tahun ini adalah US$ 3,533. Saya langsung membuka situs m-Dinar.com yang menyajikan harga Dinar Gerai Dinar dalam US$ yang menunjukkan angka US$ 257.34/Dinar. Artinya bagi Anda yang beruntung bisa pergi haji dengan ONH biasa tahun ini, Anda hanya perlu US$ 13.73 Dinar, atau turun drastis dari angka yang pernah saya hitung kurang dari 2 tahun lalu ketika saya menulis “Emak Naik Haji Dengan Dinar…”.

Saat itu ONH berada di kisaran 20 Dinar yang sudah sangat murah bila mengingat bahwa tahun 2000 angka ONH berada di kisaran 70 Dinar per jamaah !. Artinya dengan Dinar yang sama yang orang pakai untuk membayar ONH untuk 1 orang jamaah haji pada tahun 2000 tersebut, Anda kini dapat memberangkatkan 2 orang jamaah haji ONH Plus dengan fasilitas minimal hotel bintang 4 di Madinah dan di Mekkah , dan masih cukup pula sisa uang untuk oleh-oleh orang sekampung !.

Jamaah haji ONH plus tahun ini ditentukan pada angka minimal US$ 7,000/jamaah. Katakanlah Anda pilih yang bagusan dengan fasilitas minimal hotel bintang 4 pada angka US$ 8,000; maka ini hanya perlu 31.10 Dinar; untuk dua orang hanya perlu US$ 62.20 Dinar. Bila Anda berangkat dengan total anggaran 70 Dinar ( uang ONH untuk 1 orang tahun 2000) , maka Anda masih punya sisa uang sebesar 7.8 Dinar atau setara lebih dari 7,500 Riyal ! ( saat ini 1 Dinar setara sekitar 965 Riyal). – yang lebih dari cukup untuk Anda membeli oleh-oleh bagi orang sekampung yang ikut melepas kepergian haji Anda.

Mungkin timbul pertanyaan di benak Anda, kok bisa tambah murah ya ?, bukankan daya beli Dinar seharusnya tetap atau relatif tetap ?. Banyak penyebab untuk ini, antara lain dari struktur biaya haji itu sendiri yang terbesar pada biaya perjalanan udara-nya. Biaya perjalanan udara sendiri terdiri dari unsur biaya bahan bakar dan biaya (sewa/penyusutan) pesawat – biaya yang terakhir ini yang menyusut drastis bila dinilai dari standar emas.

Faktor penyebab lainnya adalah indikasi adanya konspirasi secara global yang membuat data-data inflasi US$ dlsb. diragukan keakuratannya – bisa jadi harga emas selama bertahun-tahun yang lewat terlalu rendah, maka ketika semakin hari semakin terbuka konspirasi tersebut – yang antara lain terkuak dengan adanya krisis hutang Amerika beberapa pekan terakhir – harga emas melonjak dan harga barang-barang lain atau jasa yang dibayar dengan emas menjadi sangat murah.

Apapun penyebabnya, sekarang Anda bisa lihat realitanya yaitu dalam bentuk Ongkos Naik Haji (ONH) baik yang biasa mapun yang plus turun sangat significant bila dibayar dengan Dinar. Berangkat dari realita ini, maka Anda mulai kini bisa merencanakan untuk menunaikan kewajiban bagi yang mampu ini secara lebih akurat dan lebih ringan.

Berikut langkah-langkah teknis yang bisa Anda tempuh :

· Rencanakan untuk bisa mengumpulkan 15 Dinar untuk ONH biasa dan 35 Dinar untuk ONH plus per orang. Insyaallah cukup untuk keberangkatan Anda – kapan saja Anda mendapatkan kursi untuk ini.

· Jumlah tersebut dapat Anda bayarkan langsung (dirupiahkan) bila Anda sudah harus membayar, dan dipertahankan dalam Dinar bila belum waktunya Anda bayarkan.

· Untuk ONH plus, kemungkinan besarnya Anda perlu menyetor dahulu sebesar kurang lebih 15.5 Dinar (sekitar US$ 4,000) pada saat Anda mendaftar, dan sisanya dapat Anda simpan sendiri sampai waktunya dibayarkan untuk pelunasannya.

· Bagi biro-biro perjalanan haji yang tertarik lebih detil tentang pengelolaan ONH berbasis Dinar ini secara berkelompok dapat menghubungi kami untuk menyepakati skema pengelolaan yang workable.

· Kami bukan biro perjalanan haji, jadi kami tidak mengurusi proses pendaftaran dlsb.; untuk ini bila ada biro-biro yang tertarik untuk bekerja sama dengan kami dalam membantu saudara-saudara kita yang ingin merencanakan perjalanan hajinya dengan lebih ringan – silahkan juga mengubungi kami.

Insyallah (rencana) perjalanan Anda untuk menunaikan ibadah haji ini akan lebih ringan – bila sedari awal direncanakan dengan mantang. Amin.

Minggu, 07 Agustus 2011

Mereka Sudah Merobohkan Rumah-Rumah (System) Mereka Dengan Tangan Mereka Sendiri... PDF

Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 08 August 2011 08:33

Sudah beberapa pekan ini, orang Amerika – terutama tokoh-tokoh pentingnya selalu gelisah di akir pekan. Bila dua pekan lalu mereka gelisah dengan krisis plafon hutang, ketika plafon hutang ini teratasi – ternyata masalah baru yang tidak kalah seriusnya muncul. Masalah baru ini adalah ketidak percayaan pelaku pasar terhadap ekonomi negeri itu, ini tercermin dari anjlognya saham-saham di bursa pekan lalu justru setelah plafon hutang disepakati naik. Ketidak percayaan ini bahkan juga di confirm oleh salah satu pemeringkat hutang Standard & Poor’s, yang menurunkan credit rating hutang jangka panjang Amerika dari AAA ke AA+ dengan outlook negative – masih mungkin bertambah buruk lagi !.

Kejadian penurunan rating yang pertama kalinya sejak Amerika memperoleh AAA nya 70 tahun lalu itu, tentu akan menimbulkan gejolak pasar yang sulit di bayangkan di seluruh dunia. Untuk meminimisasi efek penurunan rating ini bahkan Standard & Poor’s memilih waktu Jum’at malam – ketika semua bursa sudah tutup untuk pengumumannya. Pagi ini gejolak bursa termasuk harga emas akan sulit dihindari karena efek gempa penurunan rating yang tidak sepenuhnya bisa dimitigasi – sepanjang akhir pekan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa negeri yang paling kaya dengan GDP per capita rata-rata diatas 4 kali dari GDP per capita dunia tersebut justru menjadi sumber kekacauan ekonomi dunia dalam beberapa tahun terakhir ?. Perhatikan peta income ratio yang dibuat oleh University of California sekitar 10 tahu lalu dibawah.

Income Ratio 2000

Income Ratio 2000

Ketika Indonesia masih berjuang dalam tiga dasawarsa dengan GDP per capita di kisaran 0.26-0.75 GDP per capita dunia, Amerika secara persisten mimiliki GDP per capita yang lebih besar dari 4 kali-nya GDP per capita rata-rata penduduk dunia. Tetapi inilah ironi kapitalisme itu, di negeri yang penduduk kaya-nya paling banyak di dunia itu – negaranya sendiri mengalami ancaman kebangkrutan yang sangat serius. Mereka sungguh-sungguh dalam simalakama yang luar biasa, ditambah plafon hutang – orang menjadi tahu bahwa negeri itu hanya selamat dengan hutang, tidak ditambah hutang – negeri itu langsung mulai default.

Kegagalan ekonomi Amerika yang juga representasi kapitalisme ini akan menjadi epicentrum dari gempa ekonomi global (lagi) yang dampaknya pasti akan kita juga rasakan.

Lantas timbul pertanyaan yang mendasar, bila kapitalisme gagal atau sedang menuju proses kegagalan, komunisme malah lebih dulu gagal dua dasawarsa lalu, lantas seperti apa ekonomi yang seharusnya bisa langgeng sampai akhir jaman ?. Bagi kita tentu solusi ekonomi yang mengandalkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits.

Untuk krisis global yang epicentrum-nya di Amerika tersebut misalnya, jawaban Qur’ani-nya ada di penggalan surat Al Hasyr Ayat 7 : “... supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu...”. Kalau saja kekayaan orang-orang Amerika lebih menyebar, krisis sekarang tidak akan timbul. Negerinya tidak perlu berhutang kesana-kemari untuk membayar gaji para veteran, tunjangan sosial masyarakat yang tidak mampu dlsb.

Peluang system (ekonomi ) Islam menggantikan system yahudi ini juga sudah dikabarkan oleh Allah di surat Al Hasyr pula, ayat 2 : “...mereka merobohkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

Mereka sudah merobohkan ekonomi mereka sendiri, maka kini waktunya tangan-tangan kaum muslimin untuk menghadirkan system penggantinya. Seperti apa konkritnya ?, inilah yang menjadi PR besar para ahli ekonomi dan praktisi Muslim, para hafidz dan hafidzhah yang mampu meningkatkan interaksinya dengan Al-Quran secara pari purna, tidak berhenti dari membaca dan menghafal, tetapi mampu memahami, mengimplementasikan (mengamalkan) dan mengajarkan setiap petunjuk yang ada di Al-Qur’an.

Bila tangan-tangan kaum muslimin tidak berhasil menghadirkan solusi-nya ketika mereka telah merobohkan system ekonomi mereka sendiri seperti yang terjadi saat ini – maka yang akan muncul tetap saja system kapitalisme yahudi dalam bentuk lainnya, lalu kita akan menunggu lagi kapan mereka akan merobohkan kembali system mereka itu dengan tangan mereka sendiri lagi ?. Wa Allahu A’lam.


Rabu, 03 Agustus 2011

Ketika System Ekonomi Adikuasa Kehilangan Kredibilitasnya...

Oleh Muhaimin Iqbal
Rabu, 03 August 2011 08:13

Bila proses kiamat itu digambarkan seperti tasbih yang putus talinya, butir-butir-nya jatuh satu demi satu dengan urutan yang semakin cepat – nampaknya demikian juga proses runtuh-nya system ekonomi suatu negara. Hal ini nampak dari jatuhnya daya beli uang mereka – yang semakin hari semakin cepat. Bila dalam rata-rata 40 tahun terakhir, waktu T dari US$ - yaitu waktu yang diperlukan US$ untuk kehilangan separuh daya belinya – adalah 8.9 tahun, dalam 10 tahun terakhir waktu T ini tinggal 5 tahun, dan dengan drama krisis hutang yang baru berakhir kemarin – waktu T ini tinggal 3 tahun 8 bulan.

Grafik dibawah menunjukkan kenaikan harga emas dalam US$/troy ounce dan harga Dinar dalam Rupiah. Nampak Dollar dalam tiga tahun terakhir lebih buruk kinerjanya ketimbang Rupiah. T untuk Rupiah masih lebih baik dari Dollar yaitu 3 tahun 10 bulan – artinya Rupiah lebih mampu bertahan ketimbang Dollar – paling tidak untuk sementara ini.

Peluruhan US$ dan IDR

Peluruhan US$ dan IDR

Ada proses pembelajaran yang luar biasa yang terjadi di masyarakat dunia dalam beberapa pekan yang lewat, mereka tiba-tiba sadar bahwa system ekonomi yang diusung oleh negeri – yang selama ini dianggap paling perkasa/adikuasa – ternyata rapuh, ternyata mereka hanya hidup dengan cara gali lubang tutup lubang. Perkiraan saya-pun bisa meleset, sebelumnya saya menduga bahwa pasar akan meresponse positif dengan disepakatinya plafon hutang baru AS – ternyata kelegaan itu hanya berlangsung beberapa jam saja, setelah itu pasar menyadari bahwa ada yang seriously wrong dalam system ekonomi Amerika Serikat.

Hanya kurang dari 24 jam sejak disetujuinya plafon hutang baru AS, pasar kembali pesimis bahwa ekonomi AS akan pulih. Bahkan seorang ekonom yang juga comptroller general and head of the Comeback America Initiative - David Walker – kemarin di CNBC – menyatakan bahwa tidak lebih dari tiga tahun dari sekarang, Amerika akan menjadi seperti Yunani kini – yang tidak bisa membayar hutang dan kesana-kemari minta bantuan.

Dengan meluruhnya Dollar yang sangat cepat ini, lantas apakah Anda masih akan mengandalkannya untuk nilai tabungan/ deposito Anda ?, asuransi jangka panjang Anda ? atau sebagai cadangan devisa kita ?. Jangan mau ikut tenggelam bersama Dollar...!. Wa Allahu A’lam.

Minggu, 24 Juli 2011

Roller Coaster Harga Emas Dari Akhir Pekan Yang Meresahkan Di Gedung Putih...

Oleh Muhaimin Iqbal
Senin, 25 July 2011 07:46

Obama pasti tidak bisa menikmati akhir pekannya kemarin, betapa tidak – Jum’at malam sebelumnya negosiasi untuk meninggikan plafon hutang dengan Congress gagal total ketika juru bicara House of Representative negeri itu menghentikan negosiasinya. Dalam suratnya kepada para colega-nya di Congress – jubir yang berasal dari Republic ini bahkan menyebutkan bahwa “ ...pembicaraan dengan Democratic President ini adalah sia-sia...” – untuk menggambarkan masih begitu jauhnya perbedaan penawaran antara keduanya. Kalau hanya Obama dan rakyatnya yang gelisah – sebenarnya ini bukan urusan kita, tetapi masalahnya dalam dunia yang terlalu US$ centris seperti sekarang ini – ketika Amerika runtuh ekonominya – semua negara lain terkena getahnya, termasuk kita !.

Dampak yang sangat serius dari krisis plafon hutang di Amerika terhadap ekonomi dunia ini diungkapkan dengan akurat oleh seorang menteri di Inggris sebagai : “ ...ancaman terbesar bagi system financial dunia saat ini justru datang dari beberapa orang sinting di sayap kanan Congress Amerika...”.

Melihat perkembangan yang luar bisa ini, meskipun saya sendiri tidak sepenuhnya yakin bahwa jalan negosiasi antara Obama dan Congress-nya sudah bener-bener buntu – tetapi dari sekarang sampai tanggal 2 Agustus 2011 akan menjadi hari-hari yang menegangkan bagi para pemain pasar di dunia. Seperti menonton permainan catur yang memeras otak antara Obama dan Congress, langkah demi langkah akan diamati dengan cermat – kemudian di implementasikan oleh para pemain pasar di lapangan.

Untuk pergerakan harga emas, sepekan kedepan akan seperti naik Roller Coaster - bisa naik dengan sangat pesat seperti yang terjadi pagi ini ketika pasar Sydney dan Hongkong mulai buka – bisa juga meluncur balik ke bawah – bila ada kemajuan yang berarti dari negosiasi antara ‘dua pemain catur’ tersebut diatas.

Mengapa demikian ?, bila kesepakatan kenaikan plafon hutang Amerika tidak tercapai – maka yang terjadi seperti orang yang sakit parah di ICU dan dicabut bantuan pernafasannya. Amerika langsung default dan hutang dan uang mereka langsung hancur nilainya – orang berburu emas untuk mengantisipasi hal ini.

Bila akhirnya nanti dalam sepekan kedepan kesepakatan itu tercapai – maka seperti bantuan pernafasan tersebut dipasangkan kembali – denyut jantung Amerika akan mulai nampak kembali di layar – akan ada tanda tanda-tanda kehidupan kembali bagi hutang-hutang Amerika. Ini sementara cukup bagi pasar untuk seolah-olah life as usual telah kembali.

Namun bagi yang mau berfikir panjang dan melihat realita yang ada, sebenarnya orang dengan mudah bisa tahu bahwa seandainya toh kesepakatan itu tercapai – sejatinya system keuangan Amerika – yang juga sangat erat dengan system keuangan dunia – tetap lagi sakit parah. Bantuan pernafasan tidak membuatnya sembuh, hanya memperpanjang ‘status-quo’-nya – setahun atau maksimal dua tahun lagi akan kembali memasuki masa krisis seperti ini. Setelah itu negosiasi yang berat akan dimulai lagi dan kondisi seperti akhir pekan lalu itu akan terulang.

Tetapi apakah Amerika dan dunia akan terus seperti ini - tersandera oleh hutang dan dua pihak yang tidak mau saling mengalah ?. Tidak juga kalau para pemimpin dunia mau belajar dari sejarah-nya !. Di Amerika sendiri peristiwa yang nyaris sama terjadi lebih dari dua abad lalu. Adalah Daniel Shays yang tercatat dalam sejarah mampu men-trigger penyelesaian dari kebuntuan yang luar biasa antara para pemimpin negeri saat itu.

Daniel adalah prajurit yang ikut berperang pada perang revolusi, namun ketika pulang dia mendapati ladang pertaniannya disita oleh bank karena krisis finansial serius yang melanda negeri itu. Ironinya adalah krisis finansial ini sendiri penyebabnya adalah negeri itu babak belur dengan hutang untuk membiayai perang – dan para pemimpin negeri itu tidak ada yang mau legowo untuk memberi solusi bagi negerinya.

Walhasil krisis yang berkepanjangan mengorbankan para pejuang seperti yang dialami oleh Daniel Shays. Kecewa dengan ini dia membentuk pasukannya sendiri yang diberi namaShaysites dan memberontak terhadap negerinya. Pemberontakan ini akhirnya bisa ditumbangkan setelah mengorbankan sejumlah nyawa, Daniel sendiri akhirnya masuk penjara. Tetapi dari pemberontakan inilah para pemimpin menjadi takut dan akhirnya duduk bareng menyelesaikan masalah dengan mulai menyusun Constitution yang digunakan di Amerika hingga saat ini.

Masalahnya adalah siapakah yang akan menjadi Daniel Shays-nya Amerika saat ini yang akan bisa memaksa Presiden Obama dan Congress-nya untuk menyelesaian perbedaan antara keduanya ?. Kita tidak mau tergantung atau terlalu terpengaruhi oleh apa yang terjadi di sana. Kita juga tidak mau menunggu terjadinya pemberontakan di negeri itu – biarlah rakyat negeri itu sendiri yang mengatasi masalahnya.

Tetapi lantas apa yang bisa kita lakukan agar permainan Roller Coaster US Dollar tidak ikut menguncang kondisi keuangan dan daya beli kita ?, ya jauhilah US Dollar itu – juga produk-produk yang berdenominasi dalam Dollar !. Amankan dengan aset fisik berupa emas/Dinar, kebun, ternak, sawah, barang dagangan dlsb. sehingga ketika Roller Coaster itu menjadi tidak terkendali – Anda tidak dibuat mabuk karena telah ikut mengendarainya. Wa Allahu A’lam.